Hari ini, 10 Maret 2017, saya dan Prof. Daniel M. Rosyid bertugas promosi ITS di NTT. Lebih tepatnya, saya mendampingi beliau. Agenda hari ini cukup padat, pagi hari kami bertemu dengan Gubernur NTT, berkunjung ke SMA Geovani, SMA Mercusuar, dan lanjut mengunjungi Galangan Kapal di Kupang.

Kok bisa bertemu Pak Gubernur, Bapak Frans Lebu Raya? Terdapat alumni muda FTK yang lincah, Mas Ridho dan Mas Crist, yang membantu ini semua. Menurut masyarakat NTT, citra ITS sangat baik; saking baik dan bagusnya, mereka takut untuk ikut berkompetisi ujian masuk ITS. Jumlah alumni ITS asal NTT tidak lebih dari 35 orang. Jumlah yang sangat minim.

Prof. Daniel menyampaikan rencana program afirmasi dari ITS/FTK kepada Pak Gub. Tentunya, pembicaraan ini gayung bersambut, dan mendapat tanggapan positif. Pak Gub menjelaskan bahwa NTT adalah provinsi kepulauan dan tentunya membutuhkan SDM yang dapat mengelola sumber daya alam kelautan.

Sejak beberapa tahun lalu, NTT menggagas suatu program Gerakan Masuk Laut (GEMALA). Pada awalnya, program ini sulit berkembang karena beberapa faktor, seperti belum ada model nelayan sukses, kekurangan kapal hingga kepercayaan bahwa laut adalah tempat arwah leluhur yang tidak boleh diganggu. Hingga suatu ketika, kemarau berkepanjangan “memaksa” penduduk untuk masuk laut karena panen gagal dan kekeringan. Saat ini, NTT menjadi salah satu contoh sukses pemberdayaan masyarakat di sektor kelautan.

Selain bertemu Pak Gub dan mengunjungi beberapa sekolah, kami bertemu dengan seorang tokoh masyarakat yang punya andil dalam GEMALA ini. Beliau adalah Pak Haji Ismail Dean. Mantan PNS, yang saat ini pengusaha perkapalan. Kami mengunjungi kediaman dan galangan-nya. Pak Haji yang sarjana ekonomi ini, membuat kapal secara “otodidak” dan berdasarkan “tacit knowledge” dari leluhurnya. Leluhurnya adalah pembuat kapal pinisi di Sulawesi. Singkat cerita, galangannya ini telah membuat 6000an kapal nelayan. Tahun ini mereka memperoleh pesanan hingga lebih dari 600 kapal. Pesanan ini berasal dari pemprov NTT dan Kementrian KKP. Akhir-akhir ini, tim FTK membantu standarisasi dan konsultasi untuk galangan ini. Sebuah harmoni yang indah antara pemerintah-industri-perguruan tinggi.

Seperti pepatah, memberi kail lebih baik daripada memberi ikannya. Pemprov NTT memberi kapalnya secara gratis kepada nelayan, dan Pak Haji memberi garansi “seumur hidup” untuk kapal produksinya ini.

Leave a comment

Trending