Beberapa waktu lalu, saya berkesempatan mengunjungi PT. Vale di Sorowako dalam rangka kuliah kelas kerjasama dan sekaligus bersilaturahim dengan alumni ITS dan pekerja disana. Juga berkesempatan mengenakan seragam full safety untuk tambang, dari pagi hingga petang, serasa diri ini seorang “insinyur”.
PT. Vale yg sebelumnya dikenal sebagai PT. Inco adalah perusahaan penghasil bijih nikel. Perusahaan ini mensupplai 5% kebutuhan nikel dunia. Lokasi tambang dan pengolahannya berada di Sulawesi tengah, sangat elok dengan perbukitan, pepohonan hijau lebat dan memiliki salah satu danau terdalam di dunia, danau Matano. Danau dan aliran sungai yang ada dimanfaatkan sebagai PLTA dg kapasitas 3×90 MW.
Sebagai perusahaan kelas dunia, tentunya karyawan dan staf disana memiliki kualifikasi yang baik. Para insinyur direkrut dari fresh graduate atau pekerja berpengalaman dari berbagai perguruan tinggi ternama termasuk ITS.
Bagaimana para alumni mengawali karir di perusahaan ini, menarik untuk disimak. Cak Ricky (lulus 2011/2012) sebagai mechanical engineer, di minggu pertama sudah mendapatkan tugas troubleshooting salah satu boiler yang bermasalah. Padahal tipe boiler tersebut belum pernah dia pelajari dan jauh lebih komplek dari yang ada di buku kuliah. Dalam waktu yang singkat, dia harus memberikan saran- saran perbaikan. Alumni lain, Cak Leo (lulus 2010) sbg instrument engineer mengalami hal serupa pada awal karirnya mendapatkan proyek pengembangan sistem monitoring pada salah satu unit plant. Agak sedikit beruntung, karena punya pengalaman kerja setahun di industri pulp and paper, namun dia perlu waktu untuk adaptasi dan belajar. Kedua alumni tersebut sepakat, bahwa kuliah di kampus memberikan pengetahuan dan kerangka logis yang cukup/minimum untuk menyelesaikan kasus-kasus tersebut.
Seperti jamak diketahui, tugas para insinyur meliputi pekerjaan dari disain, membuat spesifikasi, konstruksi, commissioning, operasional, maintenance, dan seterusnya, hingga evaluasi. Para insinyur muda ini mendapatkan beban pekerjaan dimana kurang lebih 50% bersifat rutin, dan 50% lainnya bersifat troubleshooting, pengembangan dan lainnya. Pekerjaan rutin cukuplah menggunakan SOP dan ketentuan-ketentuan yang berlaku. Sedangkan yang lainnya, diperlukan kemampuan belajar cepat, komunikasi, kepemimpinan, dan sebagainya. Dengan mengenakan seragam “insinyur” tadi, saya bisa membayangkan dan merasakan dinamika pekerjaan mereka. Bagaimana bekerja dalam lingkungan keras, berdebu dan bising. Bagaimana stress-nya bila terjadi shutdown.
Dikaitkan dengan KKNI, lulusan S1 setara dengan level 6 memiliki capaian pembelajaran dimana lulusannya bisa menyelesaikan masalah menggunakan kompetensi keilmuannya. Pada beberapa lowongan pekerjaan, saya baru mengetahui, ternyata ada salah satu persyaratan yaitu “mempunyai jiwa petualang”. Di sisi lain, menurut teori generasi; para dosen kita adalah generasi baby boomers (lahir ’46-64), generasi x (65-80), dan sebagian kecil generasi y (81-94). Sedangkan mahasiswa kita saat ini dan tahun-tahun mendatang adalah generasi z yg lahir di
Leave a comment