
Tiap lebaran dan mudik, pastilah kita mendapatkan kisah dan pengalaman inspiratif dari orang lain. Kita bertemu orang tua, handai taulan, sahabat, tetangga dan bahkan mengenal orang-orang baru dalam momen ini. Kisah sukses, kisah sedih, kisah lucu dan kenangan masa lalu menghiasi masa liburan kita.
Saya juga bertemu kerabat yang usianya sudah mendekati 80 tahun. Sebut saja Mbah Din, lahir hari sabtu pahing tahun 1939. Tanggal dan bulan lahirnya tidak terdokumentasi. Ingatan Mbah Din masih baik dan bicaranya lugas, meskipun pendengarannya mulai terganggu.
Di usianya saat ini, beliau adalah sosok yang menjalani zaman pra kemerdekaan hingga zaman now. Beliau mengenang bagaimana bayi-bayi yang lahir di masa itu baru bisa membuka matanya di usia 2 mingguan. Karena memang asupan gizi ibu yang terbatas dan konon makanan utamanya hanyalah buah pisang.
Bagaimana masa kecilnya mengalami ketakutan dan suasana pengungsian dari serangan penjajah sebelum dan di awal kemerdekaan. Bagaimana kesulitan ekonomi dan pangan dirasakan bersama-sama dalam masa orde lama. Bagaimana gentingnya suasana politik dan keamanan saat masa transisi orde lama ke orde baru. Dan seterusnya dan seterusnya. Di akhir beliau menyatakan bahwa dengan melewati zaman-zaman tersebut, adalah rasa syukur yang beliau hidup-hidupkan.
Menghidupkan rasa syukur? Apa dan bagaimana “menghidupkan rasa syukur” ?
Dalam Al Qur’an, disebutkan bahwa sangat sedikit sekali hamba-hamba Allah yang dapat bersyukur (QS 34:13). Dan manusia itu memiliki sifat zalim dan mengingkari nikmat Allah (QS 14: 34). Ini menandakan bahwa memang manusiawi melupakan nikmat dan kurang rasa syukur kepada Sang Pencipta.
Namun demikian, Allah SWT memerintahkan hamba-hambanya agar selalu bersyukur. Karena itu, ingatlah kamu kepada-Ku niscaya Aku ingat (pula) kepadamu, dan bersyukurlah kepada-Ku, dan janganlah kamu mengingkari (nikmat)-Ku” (QS 2: 152). Telah banyak kita ketahui, bagaimana manusia atau kaum yang melupakan nikmat Tuhan, mendapatkan azab yang pedih. Nabi Muhammad pun mengajarkan pada kita suatu doa “Ya Allah, tolonglah aku untuk berzikir kepadaMu, bersyukur kepadaMu dan beribadah dengan baik kepadaMu”. Maka adalah suatu kewajiban bagi manusia untuk memperjuangkan dan menghidupkan rasa syukur.
Bersyukur adalah suatu perbuatan yang bertujuan untuk berterima kasih atas segala limpahan nikmat yang telah Allah SWT berikan.
Dalam bersyukur ada sesuatu yang penting yaitu mengenali nikmat Allah. Sesungguhnya mengetahui dan mengenal nikmat, merupakan salah satu pilar terbesar dalam bersyukur.
Karena tidak mungkin seseorang dapat bersyukur, jika dia merasa tidak mendapatkan nikmat. Maka mengenal nikmat merupakan jalan untuk mengenal Sang Pemberi Nikmat, dan kalau seseorang tahu siapa yang memberikan nikmat, maka dia akan mencintainya, sehingga cinta itu akan melahirkan kesyukuran dan terima kasih.
Ada banyak cara yang dapat dilakukan manusia untuk mensyukuri nikmat Allah SWT. Secara garis besar, mensyukuri nikmat ini dapat dilakukan dengan cara-cara sebagai berikut: 1. Bersyukur dengan hati, 2. Bersyukur dengan lisan, 3. Bersyukur dengan perbuatan, dan 4. Menjaga nikmat dari kerusakan.
Lantas bagaimana menghidupkan rasa syukur?
Kiranya, menghadirkan dan menggetarkan rasa syukur dapat melalui proses pembelajaran. Di dunia pendidikan saat ini, kita mengenal adanya taksonomi bloom. Taksonomi ini dirancang oleh Benjamin S. Bloom pada tahun 1956. Menurut Bloom, aspek pendidikan dibagi menjadi beberapa domain dan setiap domain tersebut dibagi kembali ke dalam pembagian yang lebih rinci berdasarkan hirarkinya.
Aspek pendidikan dibagi ke dalam 3 (tiga) domain, yaitu:
1. Kognitif, berisi perilaku-perilaku yang menekankan aspek intelektual, seperti pengetahuan, pengertian, dan keterampilan berpikir.
2. Afektif, berisi perilaku-perilaku yang menekankan aspek perasaan dan emosi, seperti minat, sikap, apresiasi, dan cara penyesuaian diri.
3. Psikomotorik, berisi perilaku-perilaku yang menekankan aspek keterampilan motorik seperti tulisan tangan, mengetik, berenang, dan mengoperasikan mesin.
Domain kognitif memiliki 6 tingkatan dari tingkatan terendah pengetahuan, pemahaman, aplikasi, analisis, evaluasi dan tingkatan tertinggi kreasi. Domain afektif memiliki 5 tingkatan yaitu: menerima, menanggapi, menilai, mengelola dan menghayati. Sedangkan domain psikomotorik memiliki 4 tingkatan yaitu: menirukan, memanipulasi, pengalamiahan/habituasi, dan artikulasi. Semakin tinggi tingkatannya menunjukkan semakin tinggi tujuan pembelajarannya dan semakin tinggi kelasnya.
Layaknya lifelong learning, menghidupkan rasa syukur merupakan pekerjaan hingga akhir hayat. Semoga kita menjadi bagian dari hamba-hamba yang pandai bersyukur, dan menjadi bangsa yang bersyukur kepadaNya.
*dikutip dari berbagai sumber
Leave a comment