“Produk gitar listrik ini adalah kreasi mahasiswa di kelas kami dan saat ini tim-nya menjadi sebuah perusahaan start up bernama instashred. Gitar ini memiliki kemampuan IoT dan memiliki lampu LED pada tiap posisi grip/chord-nya. Sehingga, sangat baik untuk belajar gitar bagi pemula. Cukup pilih lagu melalui applikasi di HP, kemudian data chord dan indikator LED muncul di gitar tersebut.” Demikian penjelasan Ginu Rajan kepada saya.

Ginu Rajan, kawan seperguruan di Dublin, adalah dosen pengampu mata kuliah Engineering Design and Management di University of Wollongong. Mata kuliah ini berada di semester 6 program sarjana di School of Electrical, Computer and Telecommunications Engineering.

Pada mata kuliah ini, mahasiswa bekerja secara tim untuk membuat sebuah prototipe berbasis IoT. Selama kuliah, mahasiswa dibekali dengan berbagai materi antara lain: engineering design, pembuatan rencana bisnis, manajemen proyek, etika, dan sebagainya. Dimana pengampu materi-materi ini adalah sebuah tim dosen yang berasal dari lintas departemen. Setiap tim harus membuat prototipe dengan biaya maksimum sebesar $350. Biaya ini ditanggung oleh kampus, namun pembelanjaan bahan dan alatnya harus melalui laboratorium yang ditunjuk. Di akhir semester, diadakan semacam pameran produk dan pihak kampus mendatangkan calon investor.

Model mata kuliah ini sangat menarik. Sangat menantang bagi mahasiswa. Mereka perlu kerjasama tim, mengerahkan kreativitas dan kerja keras mewujudkan ide-nya. Dan sesuai kebutuhan zaman ini, para inovator perlu diciptakan dan diperbanyak.

Pemerintah saat ini sangat gencar melancarkan program-program seperti hilirisasi hasil penelitian, pembuatan pusat unggulan ipteks (PUI), dan pengadaan science and techology park (STP). Pengembangan pusat inkubasi bisnis juga banyak dilakukan akhir-akhir ini. Jalan menjadi inovator telah disiapkan, namun siapakah yang akan jadi inovator?

Menjadikan inovator berarti perlu menciptakan budaya inovasi. Ada sebuah buku yang menarik tentang inovasi yang berjudul “Creating Innovators” yang ditulis oleh Tony Wagner. Tony melakukan wawancara terhadap para inovator kelas dunia. Inovator – inovator di bidang sains, teknologi, kesenian, dan sosial. Dia juga melakukan wawancara terhadap orang-orang yang membentuk inovator tersebut. Yaitu orang tua, keluarga, guru sekolahnya, dosen dan juga survey tempat kuliahnya dan sebagainya.

Kira-kira dari buku ini, dikemukakan bahwa para inovator tersebut ditumbuhkembangkan dalam lingkungan yang membangun adanya: kerjasama tim, interdisiplinary problem-solving, dan motivasi yang sangat kuat.

Sehingga, bagaimanakah cara menyiapkan calon inovator di kelas atau kampus? Yaitu dengan membangkitkan “DNA”nya yang terdiri dari unsur-unsur: (1) rasa ingin tahu/curiosity. Suatu kebiasaan mengajukan pertanyaan yang baik, keinginan mengetahui dan memahami lebih dalam. (2) kolaborasi. Diawali dengan mau mendengarkan dan belajar dari orang lain yang memiliki perspektif berbeda dari dirinya. (3) berpikir asosiatif dan integratif. Membiasakan membuat analogi dan merangkai ragam ide. Dan (4) melakukan tindakan dalam realisasi idenya. Ide yang baik akan percuma bila tidak terwujud melalui eksperimen atau uji coba.

Ketika unsur-unsur DNA diatas telah teraktivasi, maka para calon inovator ini perlu memupuk tiga hal. Yaitu, keahlian/expertise di bidangnya, ketrampilan berpikir kreatif, dan motivasi yang kuat. Berkaitan dengan berpikir kreatif, Tony kembali menjelaskan bahwa kreativitas itu berakar pada rasa ingin tahu dan kemampuan imajinasi. Sehingga untuk menjadi kreatif, haruslah latihan berpikir “out of the box” dan semacamnya. Konon menurut “Abah” Einstein, imajinasi 1000 kali lebih penting daripada sains. Produk-produk teknologi saat ini, telah dibayangkan puluhan tahun yang lalu, dalam film-film bergenre fiksi ilmiah.

Banyak yang beranggapan bahwa seseorang yang kreatif dan inovatif adalah bawaan sejak lahir. Namun demikian, menurut literatur, hampir semua orang dapat menjadi lebih kreatif dan lebih inovatif apabila tumbuh dalam lingkungan dan diberikan kesempatan yang mendukung. Hal ini diyakini oleh perusahaan seperti Google dengan menciptakan suasana dan lingkungan kerja yang sangat nyaman dan menyenangkan bagi pekerja kreatifnya.

Akhirnya, progam hilirisasi hasil riset, PUI, STP, dan inkubasi bisnis harus diiringi dengan upaya sadar untuk menciptakan para inovator. Yaitu dengan menyiapkan para pendidik (termasuk orang tua) yang dapat membangkitkan “DNA” inovator dan membuat lingkungan dan atmosfer sekolah/kampus/tempat kerja yang sangat mendukung budaya inovasi.

Leave a comment

Trending