
Ada dua kejadian berbeda di Jawa Timur beberapa waktu ini. Keduanya terjadi di bawah langit yang sama. Hanya terpisah jarak fisik yang tak seberapa. Namun terpisah jarak nasib yang luar biasa.
Di sebuah warung di Surabaya. Saya melihat lima anak muda duduk melingkar. Kopi hangat, tapi hening. Lima kepala menunduk, mata terpaku pada layar, jari menari cepat di atas kaca. Raga mereka di sana. Tapi jiwa mereka entah di mana. Mereka “hilang” dalam keramaian.
Sementara itu, hanya beberapa puluh kilometer dari warung kopi tersebut. Seorang ibu berusia 72 tahun benar-benar hilang. Dalam arti yang paling sunyi.
Ia tinggal sebatang kara. Selama lima hari ia tidak keluar rumah. Tidak ada notifikasi yang berbunyi di HP tetangganya. Tidak ada “tanda centang biru” yang dicari. Warga baru sadar ia ada, atau tepatnya pernah ada, setelah mencium bau tak sedap dari balik pintu yang terkunci.
Ia meninggal dalam senyap. Sendirian.
Dua kejadian ini adalah wajah paradoks zaman kita. Di satu sisi, anak muda kita sibuk terkoneksi dengan orang asing di benua lain lewat internat dan serat optik. Di sisi lain, kita gagal terkoneksi dengan tetangga yang jaraknya cuma selemparan batu.
Secara teori, kita sangat terkoneksi. Tahun 1967, psikolog Stanley Milgram bilang kita butuh 6 perantara untuk mengenal siapa saja di dunia (Six Degrees of Separation). Tahun 2016, Facebook menghitung ulang, angkanya cuma 3,57.
Dunia mengerut. Sempit. Padat.
Tapi paradoksnya justru di situ. Jika jarak kita semakin dekat, kenapa terasa makin “sepi”?
Sosiolog Erving Goffman punya jawaban menarik. Dalam teori Dramaturgi-nya, ia menyebut hidup ini teater. Ada Panggung Depan (Front Stage) tempat kita bersandiwara memakai topeng terbaik. Ada Panggung Belakang (Back Stage) tempat kita menjadi diri sendiri yang lelah, berantakan, dan tanpa riasan.
Dulu, kita punya keseimbangan. Saat bekerja atau belajar, kita di Panggung Depan. Saat pulang ke rumah, kita masuk Panggung Belakang. Kita bisa istirahat. Kita bisa diam.
Tapi media sosial menghancurkan dinding pemisah itu.
Kini, Panggung Depan itu ada di genggaman kita 24 jam. Kita dipaksa terus berakting. Foto liburan harus estetik. Caption harus bijak. Kita sibuk memoles “Avatar Digital” agar terlihat bahagia di mata penonton (followers). Sementara di Panggung Belakang, di kamar yang sepi, kita lelah berpura-pura.
Inilah sumber kesepian itu. Kita mencintai citra maya orang lain. Tapi gagal memeluk realitas diri sendiri.
Lalu, jika lelah bersandiwara, kenapa kita tidak berhenti?
Jawabannya bukan karena kita lemah iman. Tapi karena media sosial didesain dengan meniru Mesin Judi (Slot Machine). Para insinyur di Silicon Valley secara sadar menerapkan prinsip psikologi B.F. Skinner. Variable Ratio Reinforcement.
Mekanismenya persis. Saat kita scroll atau menarik layar, itu sama dengan menarik tuas mesin slot. Kita menunggu. Video lucu? Berita heboh? Atau foto membosankan?
Ketidakpastian itulah kuncinya. Jika isinya selalu bagus, tak ada lagi kejutan. Jika isinya selalu jelek, kita akan pergi. Tapi karena isinya acak, otak kita dibuat penasaran setengah mati. Setiap kali muncul konten yang kita suka secara tak terduga, otak menyemburkan dopamin. Kita menjadi pecandu. Dan bandarnya adalah algoritma yang tersenyum manis di server sana.
Di Indonesia, fenomena candu ini menciptakan tembok kaca yang kian tebal.
Dulu, kita mengira jurang ini hanya soal pemilihan aplikasi. Orang tua di WhatsApp, anak muda di TikTok. Namun kini realitasnya bergeser. Generasi senior, para Digital Immigrants, kini pun mulai bermigrasi. Mereka tak lagi sekadar kirim stiker “Selamat Pagi” di WhatsApp Group (WAG). Mereka mulai terbuai fitur Shorts, Reels, dan TikTok.
Bedanya, algoritma memisahkan kita.
Di sofa yang sama, sang Ayah mungkin sedang asyik scroll video ceramah agama, debat politik, atau tips kesehatan herbal. Sementara di sebelahnya, sang anak menatap aplikasi yang sama, tapi disuguhi konten dance, meme game, atau curhatan influencer.
Kita terjebak dalam Filter Bubble masing-masing. Algoritma tidak peduli untuk menyatukan percakapan keluarga di meja makan. Ia hanya peduli menyajikan apa yang membuat kita betah berlama-lama. Akibatnya, referensi kita tak lagi bertemu. Kita kehabisan topik bicara dengan orang terdekat bukan karena tak sayang, tapi karena kita hidup di planet algoritma yang berbeda.
Satu rumah, satu aplikasi, tapi beda semesta.
Apakah kerenggangan ini akan berhenti di sini? Sayangnya, teknologi punya rencana lain. Ia tidak berniat berhenti di layar kaca. Ia ingin masuk lebih dalam.
Ray Kurzweil, futuris Google, dalam buku barunya “The Singularity Is Nearer” (2024), memberikan prediksi yang membuat kita terhenyak.
Ia meramalkan sekitar tahun 2045, kita akan mengalami Singularity. Di masa itu, kecerdasan biologis kita akan menyatu dengan kecerdasan mesin. Neokorteks otak kita akan tersambung langsung ke cloud.
Kita sedang bergerak menuju era Post-Smartphone. Gadget perlahan akan menghilang dari genggaman. Ia berubah wujud menjadi kacamata atau lensa kontak pintar. Hingga akhirnya, evolusi itu bermuara pada Brain-Computer Interface (BCI). Sebuah teknologi yang mampu membaca pikiran.
Bayangkan tahun 2045. Saat kita berdiri di puncak gunung, menikmati keheningan kabut pagi. Teman kita di Jakarta tidak perlu melihat fotonya. Ia bisa langsung merasakan sensasi dingin dan gelombang otak alpha (rasa damai) yang sama persis via transfer data saraf. Ini adalah Telepati Digital. Kita akan berbagi emosi mentah (raw emotion).
Kurzweil menyebut ini lompatan evolusi. Tapi bagi saya, ini juga lonceng peringatan. Jika hari ini dengan smartphone saja kita sudah kehilangan koneksi batin dengan orang di sebelah kita, apa jadinya nanti saat otak kita tersambung ke mesin? Privasi pikiran akan punah, dan kesunyian jiwa mungkin akan semakin dalam.
Sebelum masa depan yang menakjubkan sekaligus mengerikan itu tiba, kita masih punya waktu.
Sebagai pendidik di ITS, saya turut merenung. Tugas kita ke depan bukan lagi sekadar mengajarkan teknologi canggih. Tugas yang jauh lebih berat adalah mengajarkan mahasiswa, dan diri kita sendiri. Untuk memelihara kemewahan yang semakin mahal di era ini: Koneksi Tanpa Sinyal.
Apa itu Koneksi Tanpa Sinyal?
Ia adalah kepedulian untuk mengetuk pintu rumah tetangga yang sunyi… sebelum terlambat. Ia adalah keberanian meletakkan HP di saku saat makan malam bersama keluarga. Ia adalah kemampuan untuk duduk diam, menikmati kebosanan, dan merasakan kehadiran jiwa lain secara utuh. Tanpa perantara layar. Tanpa bantuan AI. Tanpa sensor otak.
Di era di mana “sinyal 5G” ada di mana-mana, justru “sinyal hati” kita yang sering lost contact.
Teknologi boleh berevolusi. Dari kentongan, ke WAG, IG/TikTok, hingga nanti menyatu dengan otak kita ala Kurzweil. Dunia boleh mengerut jadi selebar retina mata.
Tapi hati kita, rasa kemanusiaan kita, jangan sampai ikut mengerut. Ia harus tetap luas. Seluas-luasnya.
AMH
Agus Muhamad Hatta
Leave a comment