
Bangkok, 14 Januari 2026. Di Ballroom Mandarin Hotel, pesan itu datang dari seorang wanita Jepang yang santun namun tegas.
Ms. Yuko Mitsui, Senior Vice President JICA, berdiri di podium. Dalam sambutan pembukanya, ia tidak bicara basa-basi diplomatik. Ia bicara soal nyawa bumi.
“Dunia sedang sakit,” kira-kira begitu pesannya. Perubahan iklim, geopolitik, krisis energi. Itu adalah Global Challenges yang tidak mengenal paspor. Badai di Filipina bisa berdampak ke Jepang. Asap di Indonesia bisa mencekik Singapura.
Solusinya? Bukan uang. Tapi Brain Circulation.
Otak manusia-manusia pintar di ASEAN, Jepang, hingga negara lainnya tidak boleh diam di tempat. Ia harus bersirkulasi. Mengalir seperti darah. Saling mengisi, saling memecahkan masalah.
Kata-kata Ms. Mitsui itu masih terngiang saat saya mengambil alih kendali ruangan.
Palu sidang kini di tangan saya. Hari itu, saya duduk sebagai Chairman. Memimpin The 29th Steering Committee Meeting AUN/SEED-Net.
Bagi yang belum tahu, ini adalah jejaring pendidikan teknik paling awet di kawasan kita. Namanya ASEAN University Network/Southeast Asia Engineering Education Development Network. Isinya: 26 UniversitasASEAN ditambah 18 Universitas Jepang.
Jejaring ini bukan “proyek kaget”. Ia dimulai sejak 2001 (tahap persiapan), lalu terus berjalan tanpa putus hingga 2026 ini. Sudah 25 tahun. Ini adalah jejaring terlama yang didukung penuh oleh JICA.
Tugas saya mengawal agenda yang padat. Di depan delegasi 10 negara ASEAN dan Jepang, kami membedah “jeroan” organisasi ini. Mulai dari laporan capaian program, ASEAN Engineering Journal yang kini dikelola UTM Malaysia, database ribuan alumni, hingga presentasi 5 Konsorsium Riset yang menjadi ujung tombak kolaborasi.
Di tengah paparan dan presentasi itu, kalkulator di kepala saya berputar. Berapa investasi yang telah diberikan JICA?
Untuk satu fase saja, JICA menggelontorkan dana ratusan miliar rupiah. Ingat, itu cuma satu fase. Proyek ini sudah berjalan seperempat abad. Angkanya fantastis.
Apakah Jepang sedang “buang uang”? Apakah ini sedekah?
Di atas kertas, Jepang rugi. Mereka membiayai 1.425 anak muda ASEAN, termasuk talenta Indonesia, sekolah S2/S3 gratis. Ditambah lagi biaya tiket seminar regional dan dana riset konsorsium.
Tapi tunggu. Jepang paham matematika kehidupan: The more you give, the more you get.
Mereka tidak membeli barang. Mereka berinvestasi pada “Otak”. Mereka sedang membangun Brain Circulation.
Dulu kita takut Brain Drain (otak dicuri). JICA menawarkan antitesis. Otak dipinjamkan, dididik, lalu dikembalikan untuk menjadi mitra kolaborasi. Jepang memberi Yen, tapi memanen masa depan.
Dengan Brain Circulation, Jepang tidak kehilangan ilmunya, ASEAN mendapatkan transfer teknologi. Ini bukan lagi sedekah. Ini simbiosis mutualisme. Sirkulasi darah intelektual yang membuat kedua belah pihak tetap hidup sehat.
Lalu, bagaimana dengan kita?
Soal “Matematika Sedekah” ini, kita sering gagal. Kita terjebak “Mental Mie Instan”.
Di sini, keluar uang hari ini, minta untung besok pagi. Biaya riset dan beasiswa seringkali masih dianggap beban pengeluaran, bukan investasi aset.
JICA memberi teladan “Penanam Jati”. Mereka sabar menanam benih (SEED) sejak 2001. Merawatnya 25 tahun tanpa rewel. Barulah sekarang mereka memanen hutan rimba intelektual yang setia. Kolaborasi riset Jepang-ASEAN kini jadi salah satu yang paling solid di dunia.
Kita harus malu. Kita harus mulai berani investasi jangka panjang.
Pertanyaan berikutnya, Apakah Brain Circulation hanya milik orang yang punya paspor?
Ternyata tidak. Di halaman rumah sendiri, benih itu mulai tumbuh.
Lihatlah terobosan Kementerian Transmigrasi baru-baru ini lewat Tim Ekspedisi Patriot (TEP).
Dulu, transmigrasi hanya soal memindahkan cangkul. Memindahkan fisik orang dari Jawa ke luar Jawa. Hari ini, transmigrasi mulai mensirkulasikan “Otak”.
Lewat TEP, ribuan mahasiswa dan dosen dikirim ke pelosok. Ke Sigi, ke Morotai, ke perbatasan. Mereka tidak disuruh mencangkul. Mereka disuruh memetakan potensi ekonomi, merancang irigasi pintar, dan mendesain rantai pasok.
Di sisi lain, Kementerian Pendidikan Tinggi, Sains, dan Teknologi juga punya program hilirisasi riset strategis. Mengalirkan dosen ke industri. Tujuannya sama: menjawab tantangan riil di lapangan.
Ini adalah bentuk nyata Brain Circulation Nusantara. Pemerintah sedang mencoba mengalirkan darah segar intelektual ke segala penjuru. Dari menara gading kampus ke lantai industri hingga lumpur sawah transmigran.
Niatnya mulia. Konsepnya brilian. Tapi…
Tapi sirkulasi itu sering macet di tengah jalan.
Mereka punya semangat. Mereka punya ilmu. Tapi ada tembok realitas. Siapa yang menyambut mereka di desa? Siapa yang menghubungkan riset abstrak mereka dengan kebutuhan perut industri?
Prof. Hideaki Ohgaki dari Kyoto University mendiagnosa penyakit ini dengan tajam. “No intermediate person coordinator.”
Kita tidak punya koordinator. Kita kehilangan “Mak Comblang”.
Di program TEP, mahasiswa datang dengan proposal teknokratis. Warga desa menyambut dengan masalah perut harian. Seringkali tidak nyambung.
Di ekosistem riset, dosen bicara jurnal Q1. Industri bicara profit bulanan. Tidak ada penerjemah di antaranya.
Tanpa Ekosistem yang matang dan Kapasitas Koordinator yang handal, program-program mulia ini terancam layu sebelum berkembang.
Kita butuh Capacity Building besar-besaran bagi para PI (Principal Investigator) dan koordinator lapangan ini. Mereka harus dididik menjadi “CEO Ekosistem” yang mampu menjahit sobekan antara idealisme kampus dan realitas lapangan.
Tanpa kompetensi itu, kita hanya akan mencetak ribuan “Minke”.
Saya teringat novel “Anak Semua Bangsa” karya Pramoedya Ananta Toer.
Minke adalah pemuda pribumi jenius. Sekolah Belanda. Fasih bicara Eropa. Minke adalah cermin kita, para akademisi ini.
Tapi ingatkah saat Minke bertemu Trunodongso, petani yang tanahnya dirampas pabrik gula?
Minke gagal total.
Ia ingin menolong, tapi ia bicara hukum kolonial dan artikel koran. Trunodongso bicara lapar dan tanah leluhur.
Bahasa mereka tak nyambung. Ijazah Belanda Minke tak laku di hadapan keringat petani.
Minke pintar, tapi ia tidak punya kapasitas sebagai koordinator. Ia tidak punya sistem yang mendukungnya untuk membumi. Ia gagal menjadi jembatan bagi bangsanya sendiri.
Penyakit Minke itu harus kita obati. Brain Circulation global ala JICA, Brain Circulation Nusantara ala TEP, maupun Hilirisasi Riset, semua adalah modal berharga.
Tugas kita sekarang adalah mengisi ruang kosong di antaranya. Membangun Sistem Mak Comblang.
Sidang hari itu saya tutup dengan sebuah harapan.
Di ujung meja, ada delegasi baru yang tersenyum.The National University of Timor Lorosa’e.
Timor Leste resmi bergabung. Saudara bungsu kita. Lorosa’e artinya matahari terbit.
Kehadiran mereka adalah pengingat.
Jepang sudah memberi teladan. Pemerintah kita sudah memulai langkah. Sekarang giliran kita, para akademisi, untuk turun tangan.
Menjadi Mak Comblang yang rela kotor. Menyambungkan kabel yang putus. Agar ilmu tidak hanya berputar di jurnal internasional, tapi mengalir deras menghidupkan ladang-ladang Trunodongso di seantero negeri.
AMH
Agus Muhamad Hatta
Leave a comment