
Dunia sedang bergerak dengan kecepatan yang tidak terkira sebelumnya. Pesan itu masuk ke salah satu WAG alumni. Dari Davos, Swiss.
Pengirimnya adalah Mas Norman Sasono, CTO DANA, alumni Teknik Fisika ITS yang membanggakan. Di sela-sela kesibukannya menghadiri perhelatan elit dunia World Economic Forum (WEF) 2026, ia membagikan sebuah sesi diskusi yang sangat “daging” bertajuk “Return of Creative Destruction”.
Di acara itu, ekonom Philippe Aghion mengingatkan dunia kembali pada konsep Joseph Schumpeter, “Penghancuran Kreatif”. Intinya, kemajuan ekonomi itu kejam tapi perlu. Inovasi baru harus diizinkan “menghancurkan” cara kerja lama. Teknologi baru menggusur teknologi usang.
Negara yang takut pada proses ini, yang sibuk melindungi industri tua dan kenyamanan masa lalu, justru akan mati pelan-pelan. Pesan Aghion jelas, “Protect people, not jobs.” Lindungi manusianya dengan skill baru, bukan melindungi pekerjaan usangnya.
Saat merenungi pesan dari Davos itu, pikiran saya melayang ke Jakarta. Semangat “Creative Destruction” itu rupanya bergema juga di Istana Negara.
Pekan lalu, 15 Januari, Presiden Prabowo mengumpulkan 1.200 rektor dan guru besar. Dalam taklimatnya, Beliau membunyikan alarm yang senada. Indonesia harus mandiri. Tidak bisa lagi kita bergantung pada tangan dan energi orang lain.
Presiden memberikan semangat nyata. Dana riset ditambah Rp 4 Triliun. Namun, kebijakan yang paling radikal adalah perombakan beasiswa LPDP. Lebih dari 80 persen alokasinya wajib untuk bidang STEM (Science, Technology, Engineering, Mathematics).
Mengapa harus se-ekstrem itu? Apakah ini berlebihan?
Sebelum menjawab, perlu diingat, definisi STEM di sini bukan hanya soal teknik, koding, atau robotika. Pertanian adalah STEM. Swasembada pangan yang diteriakkan Presiden mustahil tercapai dengan cara lama. Pertanian modern adalah soal bioteknologi, rekayasa genetika, hingga internet of things untuk lahan. Ia butuh sains tingkat tinggi, bukan sekadar cangkul.
Jawabannya ada pada data. Dan data itu, jujur saja, membuat kita harus mengelus dada. Kita tidak usah membandingkan diri dengan China (41% lulusan STEM) atau Jerman (36%) dulu. Mari kita tengok tetangga dekat kita di ASEAN.
Selama ini kita sering merasa setara, padahal dalam fondasi SDM, kita mulai tertinggal jauh.
Lihatlah Vietnam. Negara yang kini menjadi primadona investasi elektronik dunia (dari Samsung hingga Intel) itu tidak membangun kesuksesannya dalam semalam. Mereka memiliki proporsi lulusan STEM di kisaran 30-35%. Anak-anak Vietnam digembleng sains, matematika, dan koding sejak dini dengan sangat keras.
Tengok juga Thailand. Sebagai hub otomotif Asia Tenggara, mereka menjaga suplai insinyur dan teknisinya dengan ketat, juga bermain di angka di atas 30%. Malaysia pun setali tiga uang.
Lalu, di mana Indonesia?
Kita masih berkutat di angka di bawah 20%.
Mayoritas lulusan perguruan tinggi kita masih didominasi rumpun Sosial Humaniora (Soshum). Sementara Vietnam dan Thailand sibuk mencetak insinyur untuk mengisi pabrik-pabrik masa depan, kita masih asyik di zona nyaman.
Ini adalah “jebakan” yang nyata. Kita punya ambisi besar untuk hilirisasi industri, membangun smelter, pabrik baterai, hingga mobil listrik. Tapi jika struktur SDM kita tidak berubah, posisi-posisi strategis di industri itu akan diisi oleh insinyur asing. Mungkin dari Vietnam atau Thailand tadi.
Kebijakan Presiden menggeser fokus ke STEM bukan sekadar pilihan politik, melainkan strategi bertahan hidup (survival strategy) agar kita tidak sekadar menjadi pasar bagi tetangga sendiri.
Namun, kebijakan di Istana dan teori di Davos menyisakan satu pertanyaan besar, Siapa yang akan menjalankannya?
Siapa anak-anak muda yang siap menempuh jalan sunyi sains ini? Mengubah haluan bangsa dari “pedagang” menjadi “pencipta” butuh nafas panjang. Riset dasar (basic science) itu berat, sepi, dan seringkali tidak menghasilkan uang instan.
Jawabannya, secara tak terduga, datang ke ruang kerja saya Selasa kemarin.
Saya menerima kunjungan dari Yayasan Hasyim Asy’ari Tebuireng. Yang membuat hati saya gembira, rombongan ini menyertakan sosok yang sangat saya hormati, Pak Sutarno Said.
Beliau adalah guru Kimia saya saat di SMA 2 Jombang. Sosok guru yang sangat inspiratif, yang dulu memantik rasa ingin tahu kami pada sains. Kini, di usia purna tugas, semangat beliau tidak padam. Beliau justru sedang berjihad membantu pengembangan pendidikan dan penjaminan mutu di pesantren legendaris itu.
Pak Sutarno kini aktif membantu mengembangkan SMA Trensains, serta Madrasah Tsanawiyah (MTs) dan Madrasah Aliyah (MA) Sains Tebuireng.
Saya mendapat informasi menarik dari pihak Yayasan, 35 orang dari 170-an lulusan SMA Trensains tahun 2025 lalu, diterima melanjutkan kuliah di ITS. Sebuah capaian yang luar biasa.
Nama SMA Trensains mengingatkan saya pada guru saya yang lain, konseptor dan pendirinya, yakni Prof. Agus Purwanto (Guru Besar Fisika Teori ITS). Sekolah ini membawa konsep yang melampaui sekadar kurikulum. Menyatukan ayat-ayat Kauniyah (alam semesta) dengan ayat-ayat Qauliyah (kitab suci).
Inilah titik temu yang indah antara “Creative Destruction” global dan kearifan lokal kita.
Di Davos, sains dicari untuk pertumbuhan ekonomi. Di Istana, sains didanai untuk kemandirian bangsa agar tidak kalah dari Vietnam dan Thailand. Tapi di Tebuireng, dan tentu juga ada serupa di kota-kota lainnya, inovasi pendidikan sedang terjadi. Sains diletakkan pada maqam, sebagai sarana mengenal Sang Pencipta.
Pak Sutarno, Prof. Agus Purwanto, serta sosok-sosok pejuang pendidikan ini tidak sedang mencetak “robot industri” semata. Mereka sedang menyiapkan generasi yang menganggap meneliti atom, merancang algoritma, atau membedah kode genetik adalah bentuk dzikir dan ibadah.
Generasi dengan mentalitas inilah yang kita butuhkan. Karena untuk menjadi periset tangguh, butuh ketahanan mental yang luar biasa. Jika landasannya hanya materi, mereka akan mudah menyerah. Tapi jika landasannya adalah iman, bahwa ini tugas kekhalifahan mengelola bumi, mereka akan bertahan.
Tugas kita berat. Kita harus memutar arah kapal besar bernama Indonesia. Tapi melihat antusiasme dari Davos, kebijakan dari Istana, dan keikhlasan dari Tebuireng, semoga kita bisa mengejar ketertinggalan ini.
Dari pesantren, dari sekolah, dari kampus, mari kita mulai “penghancuran kreatif” ini demi Indonesia yang lebih bermartabat.
AMH
Agus Muhamad Hatta
Leave a comment