Photo by Mike van Schoonderwalt on Pexels.com

Jumat, 23 Januari. Pagi, Auditorium Tower 2 ITS tidak hanya sejuk oleh pendingin ruangan, tapi hangat oleh percikan gagasan yang membakar zona nyaman kita.

Pak Rektor membuka Saresehan dengan tajuk “From Local to Global: Membangun Ekosistem Riset Interdisiplin yang Berdampak”. Beliau tidak lagi bicara soal peringkat dunia. Beliau justru melempar pertanyaan yang menohok ulu hati, “So what?”

Kita punya ribuan publikasi. Kita punya deretan piala. Lalu, apa dampaknya? Apa masalah bangsa yang selesai karena paper kita?

Pertanyaan itu menjadi landasan bagi saya saat berdiri di podium selanjutnya. Sebagai penanggung jawab dapur riset ITS, saya sampaikan kepada dosen muda dan mahasiswa, bahwa kita harus melampaui Era “Riset untuk Riset”.

Kita di ITS sedang memasuki fase akselerasi 2030. Senada dengan tagline Kampus Berdampak. Kompas kita sekarang adalah added value. Riset harus memberi nilai ekonomi, sosial, dan memuliakan peradaban. Saya menampilkan rencana strategis ITS, RAISE. Kuncinya ada di Interdisipliner. Inovasi besar tidak lahir di ruang sunyi satu laboratorium, tapi di persimpangan jalan tempat berbagai ilmu bertemu.

Narasi ini seolah mendapat “stempel validasi” saat narasumber tamu kita naik panggung.

Mas Bagus Putra Muljadi.

Kita mengenalnya sebagai diaspora di University of Nottingham. Tapi bagi anak-anak muda Indonesia yang haus gagasan, ia adalah suara di balik podcast “The Chronicles”. Pagi itu, “ruh” kritis dari podcast itu ia bawa ke panggung ITS.

Beliau menyoroti satu penyakit kronis peneliti kita, Jebakan “Peripheral Research”.

Banyak peneliti kita puas hanya menjadi pemain pinggiran. Risetnya hanya bersifat melengkapi data dari teori besar yang sudah diciptakan orang lain di Barat. Kita hanya menjadi “tukang jahit” data, bukan “desainer” teori.

Mas Bagus menantang, “Kenapa paper di Nature atau Science itu sulit ditembus?”

Bukan karena bahasa Inggris kita jelek. Tapi karena riset kita kurang filosofis. Kita jarang mempertanyakan asumsi dasar. Riset yang berdampak global adalah riset yang berani menggugat kemapanan, bukan sekadar menambah grafik baru.

Inilah mengapa peneliti butuh kemampuan filosofis. Kemampuan untuk bertanya, “Kenapa begini? Apa benar asumsinya begitu?”

Contoh paling nyata adalah soal banjir dan pengelolaan alam.

Secara teknis, banjir adalah soal volume air dibagi luas penampang selokan. Selesai. Tapi bagi peneliti berdampak, seperti yang Mas Bagus paparkan, banjir adalah kegagalan kita memahami interaksi kompleks antara curah hujan, kekuatan akar pohon, hingga gaya yang beraksi di permukaan dan di dalam tanah.

Ia mengingatkan kita soal lahan gambut (peatland). Indonesia adalah raksasa gambut dunia. Jika model matematika kita salah memprediksi perilaku gambut, maka prediksi perubahan iklim dunia (Global Climate) akan meleset. Di sinilah riset kita tidak lagi peripheral, tapi menjadi sentral.

Untuk memperkuat argumen ini, mari kita tengok sejarah sains yang sering luput dari buku teks kita. Seperti yang diulas dalam salah satu podcastnya “How Java Shaped Modern Earth Sciences” bersama Adam Bobbette. Tanah yang kita pijak ini, Jawa, sejatinya adalah laboratorium raksasa yang melahirkan sains kebumian modern.

Pada abad ke-19, Jawa bukan sekadar koloni penghasil rempah. Jawa adalah “pusat semesta” bagi ilmuwan dunia untuk memahami nafas bumi. Para naturalis seperti Junghuhn mendaki gunung-gunung di Jawa bukan sekadar untuk wisata. Tapi untuk merumuskan teori dasar klimatologi. Mereka menyadari bahwa gunung di tropis seperti Jawa berfungsi sebagai “menara air” dan “pengatur suhu” yang dampaknya terasa hingga ke Eropa.

Dari lereng Merapi dan Semeru-lah lahir pemahaman modern bahwa atmosfer bumi itu saling terhubung. Bahwa apa yang terjadi di hutan hujan Jawa mempengaruhi cuaca dunia. Sains modern tentang iklim dan ekologi tidak lahir di laboratorium dingin di Eropa. Ia lahir dari interaksi intens antara manusia dan alam vulkanik di Nusantara.

Dulu, kitalah sumber pengetahuannya. Teori-teori besar itu dikonstruksi dari data yang diambil dari tanah kita.

Sayangnya, kita kemudian terlena menjadi konsumen teori. Kita juga lupa bahwa nenek moyang kita. Lewat La Galigo, sudah lebih dulu memahami konsep manusia sebagai penjaga keseimbangan mikrokosmos. Sebuah konsep yang kini mati-matian dicari kembali oleh dunia barat yang sedang panik menghadapi krisis iklim.

Maka, pesan saresehan pagi ini sangat jelas. Kita harus merebut posisi itu. Indonesia menjadi Pusat Pengetahuan.

Kita memiliki laboratorium alam yang paling lengkap, gambut, gunung api, laut tropis. Jangan biarkan orang lain yang merumuskan teorinya sementara kita hanya menjadi asisten pengumpul data.

Berhenti main di pinggiran (peripheral), bergeraklah ke tengah (fundamental). Ajukan pertanyaan riset yang tajam. Gali kembali kearifan lokal kita, dan validasi dengan metodologi sains terkini.

Terima kasih, Mas Bagus. Tugas kita sekarang hanya satu, RAISE the Bar. Dari konsumen pengetahuan, menuju (kembali) menjadi sumber pengetahuan dunia.

AMH
Agus Muhamad Hatta

Leave a comment

Trending