
Senin, 26 Januari. Seakan gayung bersambut pasca kunjungan Mendiktisaintek ke Coventry University di Inggris pekan lalu. ITS langsung menerima kunjungan istimewa. Tamu jauh kita, Prof. Elena Gaura bersama tim, hadir di Gedung Rektorat ITS.
Beliau hadir sebagai Associate Pro-Vice-Chancellor for Research. Saya menyambutnya dengan formasi tim lengkap. Dekan ELECTICS, Wadek FKK, Kepala Departemen Teknik Informatika, kawan-kawan Pusat Studi Kecerdasan Artifisial dan Teknologi Digital, serta para peneliti andalan ITS. Serta tim Kemitraan Global.
Topik di meja diskusi tentu tentang kerjasama, namun ada topik “berat”, Artificial Intelligence atau Akal Imitasi (AI).
ITS memiliki mimpi besar terhadap AI. Kita menempatkan diri di garda terdepan pengembangan teknologi ini di Indonesia.
Kita punya visi AI powered campus. Mencetak talenta AI. Tahun 2025 kemarin, bersama masyarakat, ada Gerakan 1000 Duta AI. Dan tentu saja, tentang “anak kandung” kebanggaan kita, Senopati, Generative AI versi ITS yang sedang kita latih untuk memahami konteks lokal, budaya, dan bahasa kita.
Kita di ITS, seperti biasa, semangatnya gas pol. Inovasi. Kecepatan. Terobosan.
Namun, di sisi meja lain, Prof. Elena menawarkan “rem” yang reflektif.
Riset Prof. Elena di bidang Pervasive Computing banyak menyentuh langsung masalah riil di negara berkembang. Mulai dari solusi energi bersih untuk kamp pengungsi hingga pemantauan lingkungan bagi komunitas marginal.
Dari sanalah lahir pendekatan Responsible and Ethical AI ala Coventry. Bagi mereka, akal imitasi (AI) bukan melulu soal seberapa canggih kode pemrogramannya, melainkan seberapa inklusif dampaknya.
Hal ini mengingatkan kita dengan pertanyaan, apakah algoritma yang kita buat ini aman bagi masyarakat yang paling rentan? Apakah ia mempersempit jurang ketimpangan atau justru memperlebarnya?
Saat mendengarkan beliau, pikiran saya melayang ke salah buku tentang AI, A Thousand Brains karya Jeff Hawkins.
Hawkins, seorang insinyur komputer yang hijrah menekuni neurosains, punya teori revolusioner. Katanya, otak manusia itu tidak punya satu “CEO”. Neokorteks kita terdiri dari ribuan unit kecil bernama “kolom kortikal” (cortical columns) yang bekerja mandiri.
Setiap kolom punya mata sendiri, punya pendapat sendiri. Kolom A bilang “ini gelas”. Kolom B bilang “ini silinder”. Kolom C bilang “ini benda licin”.
Lalu, bagaimana kita bisa paham realitas?
Mereka melakukan voting. Mereka berdemokrasi. Ribuan otak kecil itu saling mengirim sinyal sampai tercapai kesepakatan. “Oke, ini gelas kopi.”
Kecerdasan, menurut Hawkins, adalah hasil dari kolaborasi ribuan perspektif yang berbeda.
Pertemuan ITS dan Coventry kemarin bagi saya adalah ibarat simulasi nyata dari teori A Thousand Brains itu.
ITS ibarat satu kolom kortikal; teknis, infrastruktur, dan keberanian eksekusi. Coventry adalah kolom kortikal lainnya; filosofi, etika, dan tanggung jawab sosial.
Harapan saya, ketika dua “otak” ini terus berinteraksi, ketika “Senopati” ITS berpadu dengan “Responsible AI” Coventry, akan terjadilah apa yang disebut Hawkins sebagai Semantic Overlap, Tumpang Tindih Makna. Sebuah kecerdasan baru yang lebih utuh.
Lonjakan kecerdasan itulah yang ingin kita wujudkan dalam peta jalan AI di ITS ke depan.
Dalam refleksi saya, arah transformasi kampus ini sudah jelas. Visi tegas, AI di ITS tidak boleh sekadar jadi alat bantu belajar, tetapi harus menjadi mesin Riset dan Inovasi. Kami ingin AI menjadi pendorong penemuan ilmiah baru, bukan sekadar alat konsumsi.
Siapa yang harus paling diuntungkan? Tentu saja manusianya: Mahasiswa, Tenaga Kepndidikan dan Dosen.
Saya membayangkan bagaimana dosen tidak lagi terkuras energinya mengurus administrasi yang rumit, karena tugas itu sudah diotomasi oleh AI. Dosen bisa kembali ke khittahnya: berpikir, meneliti, dan mendidik.
Mahasiswa pun demikian. Kita harus tegas mendudukkan AI pada porsinya, sebagai alat belajar, bukan mesin pengerja tugas.
Jika AI mengambil alih seluruh proses berpikir, maka neokorteks mahasiswa tidak akan pernah terlatih. Literasi AI sebagai adalah menu transformasi kurikulum di semua prodi. Menjadikan AI sebagai mitra berpikir kritis, bukan jalan pintas yang mematikan nalar.
Tranformasi inilah yang krusial, karena bangsa ini sedang berlari kencang.
Dunia sering terkejut melihat kita. Indonesia adalah negara ahli leapfrog. Lompatan katak. Kita tidak berlama-lama di era PC (komputer meja). Dari tidak punya internet, rakyat kita loncat langsung ke mobile internet.
Lihat betapa cepatnya pedagang pasar memakai QRIS. Lihat online shopping.Lihat betapa masifnya adopsi ojek online. Kecepatan transformasi digital Indonesia adalah salah satu yang tercepat di dunia. Otak kolektif bangsa ini punya plastisitas luar biasa. Kita adaptif. Kita pragmatis.
Jika transformasi digital kemarin berjalan cepat, maka transformasi AI, AI-nisasi besok mungkin akan lebih cepat lagi.
Harapan kita jelas. Indonesia tidak boleh hanya jadi pasar. Dengan “Senopati”, kita ingin AI yang nyambung dengan budaya, pertanian, sumber daya alam kita. Kita ingin AI yang bicaranya “Suroboyoan”, bukan cuma bahasa Inggris aksen Silicon Valley.
Namun, kita harus berani menatap satu fakta pahit. Disrupsi Tenaga Kerja.
Jeff Hawkins mengingatkan bahwa fungsi utama otak adalah memprediksi masa depan. Dan prediksi untuk dunia kerja cukup serius.
Pekerjaan yang sifatnya repetitif, administratif, dan hanya mengandalkan hafalan, akan disapu bersih oleh AI. Ini bukan fiksi ilmiah, ini efisiensi ekonomi.
Apakah ini ancaman? Jawabannya tergantung bagian otak mana yang Anda gunakan.
Hawkins membedakan secara tegas antara “Otak Lama” (struktur purba yang mengurusi insting bertahan hidup dan emosi) dengan “Otak Baru” (neokorteks yang menjadi pusat kecerdasan dan logika).
Bagi “Otak Lama” yang reaktif, perubahan mendadak ini diterjemahkan sebagai bahaya yang memicu rasa takut. Namun bagi “Otak Baru” yang rasional, ini justru dilihat sebagai sinyal untuk berevolusi. Neokorteks kita diciptakan untuk memodelkan dunia yang terus berubah, bukan untuk meratapi masa lalu.
Maka, mitigasinya bukan dengan melarang. Mitigasinya adalah penyiapan tenaga kerja model baru.
Di ITS, talenta AI yang kita siapkan tidak didesain untuk menjadi robot. Mereka kita siapkan dengan konsep Human-in-the-loop.
Biarkan AI mengerjakan draf awal, manusia yang menyempurnakan rasa. Biarkan AI menghitung data, manusia yang mengambil keputusan etis. Biarkan AI menjadi “kaki”, manusia tetap menjadi “kepala”.
Kita harus berhenti khawatir tentang “siapa menggantikan siapa”. Rumusnya sederhana. AI mungkin memenangkan kecepatan, tapi manusialah yang tetap memegang kompas tujuan. Tanpa manusia, AI hanyalah kalkulator super-cepat yang tersesat.
Maka, kurikulum kita di ITS harus bergeser. Dari Transfer of Knowledge (yang bisa dilakukan Google, Gen AI), menjadi Transfer of Wisdom dan Critical Thinking. Di era ini, ijazah hanyalah tanda Anda pernah belajar, bukan jaminan Anda akan terus relevan.
Boleh jadi, inilah relevansi kunjungan Prof. Elena. Relevansi filosofis di balik nama Senopati yang kita pilih.
Seorang Senopati. Dia adalah pelaksana yang kuat, namun ia harus tunduk pada kebijaksanaan tuannya.
Pertemuan ini menegaskan bahwa untuk membangun Akal Imitasi, kita justru perlu memperkuat Kearifan Alami.
Maju terus AI di Indonesia. Jadilah cerdas, tapi tetaplah berhati nurani.
AMH
Agus Muhamad Hatta
Leave a comment