
Selasa, 03 Februari. Jarum jam baru menunjuk angka 05.30.
Di depan Rektorat, kami sudah berkumpul. Para pimpinan ITS. Tujuan kami satu, Koarmada II. Markas TNI Angkatan Laut. Sang penjaga laut nusantara.
Agenda resminya adalah “Character Building”. Namun bagi saya, ini lebih dari itu. Ini adalah sebuah perjalanan “spiritual teknologi”.
Sebab bagi ITS, laut dan kapal bukan sekadar objek. Itu adalah DNA kami.
Tiba di Perak, ia sudah menunggu dengan gagah. KRI Surabaya dengan nomor lambung 591.
Sebuah Landing Platform Dock (LPD). Tubuhnya raksasa, Panjang 122 meter, lebar 22 meter, tinggi 56 meter. Mampu menampung ribuan personel, tank, hingga helikopter. Ia adalah simbol kemampuan dan kekuatan bangsa ini.
Namun, kedatangan kami membawa misi khusus. Sebuah reuni teknologi.
Beberapa tahun lalu, ITS menghibahkan iStow ke KRI Teluk Bintuni. Kapal pengangkut Tank Leopard itu. Hari ini, sejarah berulang. ITS menghibahkan iStow untuk KRI Surabaya.
Apa itu iStow? Ia adalah perangkat lunak penting di dunia maritim. Ia mengatur tata letak muatan. Menghitung stabilitas. Memastikan kapal tidak oleng, tidak patah, dan selamat sampai tujuan.
Yang membanggakan, iStow ini lahir dari rahim laboratorium di ITS. Murni made in Kampus Pahlawan. Inovasinya dimotori oleh Pak Setyo Nugroho. Dekan Fakultas Teknologi Kelautan.
Rektor ITS menyerahkan plakat iStow. Upacara singkat itu memperkuat persaudaraan ITS dan TNI AL.
Saat serah terima dilakukan, saya merenung. Inilah esensi hilirisasi yang sesungguhnya. Riset dosen ITS tidak boleh berhenti hanya sekadar publikasi dan sitasi. Ia harus melaut. Ia harus menjaga kapal perang kita. Ia harus menjadi bagian dari tulang punggung kedaulatan bangsa.
Saat Joy Sailing. Kapal raksasa ini membelah Selat Madura. Angin laut berhembus. Matahari bersinar terang, kadang tertutup awan. Di dek terbuka, kami melihat lanskap yang luas. Jembatan Suramadu, Pelabuhan Tanjung Perak, Surabaya dan Bangkalan, dalam satu hamparan langit.
Di kejauhan, berdiri tegak Monumen Jalesveva Jayamahe (Monjaya). Sosok Perwira TNI AL setinggi 33 meter itu menatap tajam ke lautan. Tangannya di pinggang. Matanya menyiratkan keyakinan tak tergoyahkan.
Jalesveva Jayamahe. Di Laut Kita Jaya.
Semboyan itu menjadi yel-yel peserta Character Building. Yel-yel yang menggetarkan di atas geladak kapal perang yang sedang melaju. Nenek moyang kita pelaut, dan masa depan kita pun ada di laut.
Pekik kita sendiri, tentu turut berkumandang. Vivat! Hidup ITS! Hidup ITS!
Ada benang merah antara Jalesveva Jayamahe dan Vivat ITS. TNI AL menjaga kedaulatan fisiknya. ITS mengisi kedaulatan teknologinya. TNI AL memastikan laut aman. ITS memastikan kapal-kapalnya cerdas.
Pertemuan dua institusi di atas KRI Surabaya ini adalah manifestasi nyata dari Advancing Humanity. Memajukan kemanusiaan. ITS membuat kapal perang menjadi lebih aman dengan iStow. Kita sedang menyelamatkan nyawa prajurit. Kita turut mengamankan misi kemanusiaan yang sering diemban kapal LPD ini pada saat bencana alam.
Siang itu, di tengah laut, kami juga belajar tentang kepemimpinan.
Memimpin perguruan tinggi seperti ITS itu terasa mirip menakhodai KRI Surabaya. Kapalnya besar. Penumpangnya banyak, ribuan mahasiswa, tenaga kependidikan dan dosen. Tujuannya jauh. World Class University.
Di kapal sebesar ITS, kepemimpinan adalah kerja kolektif para perwira. Rektorat, Dekanat, Direktorat, hingga Departemen, Program Studi dan Laboratorium. Kita semua adalah pemegang kunci stabilitas.
Kita harus piawai menata beban bersama. Jangan sampai tumpukan masalah di satu fakultas membuat kapal miring. Jangan sampai ambisi sektoral di satu direktorat membuat kapal oleng. Semua harus terdistribusi. Saling menopang. Presisi. Persis seperti iStow yang bekerja menyatukan ribuan muatan demi satu tujuan. Keseimbangan dan keselamatan.
Sore hari, kami telah tiba kembali di Kampus. Di sela lelah, sebuah melodi mengalun dan terngiang di benak. Lagu “Tanpa Aku” dari Panji Sakti.
“…Bawa aku menuju jalan-jalan ke arah-Mu… Bantu aku mencintai jalan pulang…”
Rasanya pas sekali. Hari ini adalah sebuah perjalanan. Perjalanan fisik dari dermaga ke tengah laut, namun juga perjalanan nalar dan batin.
Di atas geladak KRI Surabaya yang raksasa tadi, ego kita seolah dikikis. Kita sadar betapa kecilnya diri di tengah lautan, apalagi di hadapan Sang Pencipta. Lirik itu berlanjut:
“Tanpa apa, tanpa aku, hanya Engkau…”
Filosofi ini mengajarkan bahwa dalam pengabdian yang tulus, “Si Aku” justru perlu mengecil.
Teknologi iStow yang kita hibahkan tadi bekerja persis seperti semangat lagu itu. Ia bekerja dalam senyap di layar komputer. Ia tidak berteriak “ini aku” saat menjaga kapal tetap seimbang. Ia hanya bekerja. Menjaga keselamatan.
Filosofi Jalesveva Jayamahe mengajarkan kejayaan. Lagu Tanpa Aku mengajarkan ketulusan.
Bahwa Advancing Humanity bukanlah tentang menonjolkan “siapa” yang memajukan. Bukan tentang membesarkan nama “Aku”. Tapi tentang memastikan bahwa kebaikan, sistem, dan inovasi yang kita tanam hari ini, akan tetap hidup dan memberi manfaat jauh ke depan.
Biarlah ITS terus menjulang dengan pendidikan dan teknologinya. Biarlah Indonesia terus jaya di lautnya.
Kita mengambil peran sebagai “tanpa aku” yang ikhlas menjaga mesin raksasa peradaban ini tetap berputar. Bekerja dalam sunyi, demi kedaulatan dan kemaslahatan bersama.
Vivat!
AMH
Agus Muhamad Hatta
Leave a comment