Photo by Yaroslav Shuraev on Pexels.com

Langit Pacitan menyambut saya dengan gerimis saat tiba Kamis petang, 5 Februari 2026. Kota kelahiran Presiden ke-6 RI ini tampak bersahaja. Namun, ketenangan itu rupanya hanya jeda sebelum sebuah kejutan alam.

Jumat dini hari, 6 Februari, ranjang tempat saya istirahat bergoyang hebat. Gempa.

Gempa bukanlah sekadar bencana, melainkan mekanisme bumi mencari keseimbangan baru. Lempeng-lempeng tektonik yang saling menekan melepaskan energi potensialnya yang terakumulasi. Itu adalah hukum alam. Keseimbangan seringkali harus dicapai melalui guncangan yang mengagetkan.

Siapa sangka, guncangan tektonik dini hari itu seolah menjadi pembuka bagi “guncangan” pemikiran beberapa jam kemudian di Auditorium Museum & Galeri SBY*Ani. Di sana, dalam acara Yudhoyono Dialogue Forum (YDF), kita diajak menyelami tema besar, “New Economy, New Road to Prosperity”.

Moderator Dr. Ahmad Khoirul Umam memberikan sebuah sentilan. Ia mengingatkan bahwa tanah tempat kami berpijak ini memiliki “gravitasi” tersendiri. Dari rahim Pacitan, khususnya Tremas, lahir dua gelombang besar. Syekh Muhammad Mahfudz al-Tarmasi, ulama Nusantara yang menjadi rujukan dunia Islam di Mekkah, dan Pak Susilo Bambang Yudhoyono (SBY), Presiden ke-6 RI.

Saya hadir mewakili Rektor ITS, duduk menyimak paparan para narasumber. Saya menyadari satu hal fundamental. Bukan hanya lempeng bumi yang sedang bergeser. Lempeng ekonomi dan peradaban dunia pun sedang bergerak liar. Mencari titik stabil yang baru.

Pak Chairul Tanjung (CT) membuka mata kita bahwa dunia sedang berada dalam “The Age of Chaos”. Ketidakpastian geopolitik, perang dagang, dan polarisasi global membuat tatanan lama tak lagi berlaku.

Dalam termodinamika, ini adalah kondisi di mana entropi, derajat ketidakteraturan sistem, sedang tinggi-tingginya. Ketika entropi tinggi, energi yang tersedia untuk melakukan “kerja yang bermanfaat” (useful work) menjadi berkurang.

Kita punya energi potensial luar biasa. Demografi muda, nikel, tanah subur. Tapi jika “suhu” politik kita terlalu panas dan birokrasi kita semrawut (Entropi tinggi), energi potensial itu akan habis terdisipasi menjadi panas yang sia-sia. Menguap. Tidak jadi pabrik, tidak jadi kesejahteraan.

Pak CT menunjukkan diagram menarik tentang keseimbangan antara Pragmatisme dan Idealisme (Yin-Yang).

Bagi saya, ini adalah diagram vektor. Idealisme adalah vektor arah, ke mana bangsa ini menuju. Sedangkan Pragmatisme adalah vektor besaran, energi ekonomi untuk bergerak. Jika kedua vektor ini tidak selaras, resultan gayanya akan lemah. Kita butuh resultan maksimal untuk keluar dari jebakan middle-income trap menuju innovation-based hingga science-based economy.

Jika Pak CT bicara soal “kekacauan”, Dr. Yose Rizal Damuri (Direktur Eksekutif Centre for Strategic and International Studies/CSIS) bicara soal “navigasi”. Pak Yose mengingatkan bahwa di tengah ketidakpastian global, definisi kemakmuran telah berubah. Kita tidak bisa lagi mengejar pertumbuhan ekonomi yang mengabaikan lingkungan.

Mengapa? Karena dalam lanskap geopolitik baru, isu keberlanjutan adalah tembok penghalang sekaligus jembatan baru.

Pak Yose menegaskan bahwa New Economy mensyaratkan keterpaduan antara pertumbuhan dan keberlanjutan. Jika Indonesia abai pada standar lingkungan global, produk kita akan tertolak oleh pasar. Terkena tariff barrier hijau. Jadi, “Green Economy” bukan sekadar pilihan etis. Namun, strategi bertahan hidup dalam rantai pasok global yang makin ketat.

Pandangan ini selaras dengan Prof. Hermanto Siregar yang menyebut dunia sedang “retak” (fractured world). Beliau menyentil kita. Strategi hilirisasi tidak boleh lagi hanya terpaku pada mineral yang padat modal dan rentan isu lingkungan. Tapi, harus digeser ke hilirisasi pertanian dan pangan yang padat karya dan lebih sustainable.

Gabungan pemikiran Pak Yose dan Prof. Hermanto ini adalah peringatan. Jangan sampai kita sibuk membangun industri masa lalu yang kotor, saat dunia sudah berlari ke standar masa depan yang bersih.

Kemudian, tampil Pak Otto Toto Sugiri. Paparannya mengusik nalar kita. Beliau menyajikan angka-angka infrastruktur. Indonesia punya 229 juta pengguna internet. Ini adalah “minyak mentah”-nya era digital. Tapi, kita tidak punya “kilang”-nya, alias infrastruktur komputasi. Akibatnya, nilai tambahnya mengalir keluar, dinikmati tetangga kita.

Ada satu slide yang membuat saya termenung. Kapasitas data center Singapura mencapai >100 Watt per kapita, sementara Indonesia hanya ~1,5 Watt per kapita. Hal ini pasti akan memicu arus “kebocoran” nilai ekonomi. Dari Indonesia ke Singapura.

Lebih jauh, Pak Toto bicara soal energi komputasi. Satu query ChatGPT membutuhkan energi 2,9 Wh, sepuluh kali lipat dari pencarian Google biasa (0,3 Wh). Artinya, di era AI, efisiensi termal dan pasokan energi hijau adalah kunci kedaulatan. Tanpa infrastruktur fisik ini, kita hanya akan menjadi pasar, bukan pemain.

Namun, teknologi canggih itu memiliki sisi bayangan. Prof. Mohammad Nuh memberikan peringatan yang filosofis. AI dan teknologi digital adalah General Purpose Technology (GPT) yang memiliki sifat pervasiveness atau menyusup ke segala lini. Tapi hati-hati, kata beliau. Bahaya terbesarnya bukanlah pengangguran massal, melainkan “Intellectual Laziness” atau “Males Mikir”.

Hukum Newton I (Kelembaman) berlaku di sini. Jika kita menyerahkan semua proses berpikir pada AI, otak kita akan mengalami inersia. Kita berhenti kritis, berhenti bertanya “kenapa”. Padahal, kita membutuhkan daya lenting intelektual, bukan kemalasan.

Dr. Ilham Habibie melengkapi peringatan ini dengan konsep “Twin Transition”. Transisi energi dan transisi digital harus berjalan seiring dalam bingkai “Ekonomi Pasar Pancasila”. Pasar tidak boleh dibiarkan liar bergerak secara “sentrifugal” menjauhi pusat kesejahteraan rakyat. Pancasila harus menjadi “gaya sentripetal”, penarik ke tengah, yang memastikan teknologi memanusiakan manusia, bukan sebaliknya.

Puncak dari pemikiran hari itu dirangkum oleh Pak SBY dalam catatan penutupnya. Beliau mengingatkan kita, “Membangun Indonesia maju di abad 21 tidak sama dengan menanam kacang tanah.”

Analogi ini mengingatkan orientasi waktu kita. Menanam kacang tanah adalah siklus singkat untuk panen instan. Namun, memimpin bangsa menuntut spektrum berpikir yang jauh lebih luas. Pak SBY menekankan bahwa pemimpin harus memikirkan masa depan dalam tiga dimensi waktu sekaligus, jangka pendek, menengah, dan panjang.

Tidak ada jalan pintas. Banyak variabel tak terduga. Tidak bisa sekadar copy-paste resep negara lain. Best practices tidak serta merta cocok. Ada prasyarat dan kondisi yang harus dipenuhi. Secara bertahap. Kita butuh Deep Thinking dan Right Thinking.

Kalimat Pak SBY yang menjadi “oleh-oleh” bagi saya adalah “Tanya bumi.”

Menurut beliau, jalan baru ekonomi kita harus (1) sesuai keinginan rakyat, dan (2) tanya bumi. Ini adalah prinsip keberlanjutan yang sejati. Kita tidak bisa mengeksploitasi sumber daya tanpa batas. “Tanya bumi” berarti menyelaraskan pembangunan dengan kapasitas alam. Itulah keseimbangan baru yang harus kita capai, baik secara ekologis, ekonomi, maupun sosial.

Pak SBY menutup dengan sebuah resep kepemimpinan, “Menyatukan beautiful minds.”

Saya menyebutnya Koherensi Gelombang. Indonesia punya ribuan pemikir hebat. Namun jika berjalan sendiri-sendiri, mereka hanyalah pendar bohlam biasa. Lemah, tersebar. Tugas pemimpin adalah membuat mereka “koheran”. Menyamakan fase, menyelaraskan frekuensi. Mengubah cahaya yang tersebar itu menjadi LASER. Fokus, kuat, mampu menembus masa depan.

Saya meninggalkan Pacitan dengan hati penuh. Gempa tektonik dini hari tadi mungkin telah reda. Tapi guncangan pemikiran dari forum ini? Mestinya, ia akan relevan dan terus bergetar.

Tugas kita sekarang jelas. Meredam chaos dunia dengan nalar kritis dan deep thinking. Membangun infrastruktur kedaulatan, baik digital maupun hijau. Mengubah guncangan zaman menjadi momentum untuk melompat lebih tinggi. Menuju keseimbangan baru yang berkelanjutan.

Ingat, kita tidak sedang menanam kacang tanah. Kita sedang merajut peradaban. Dan peradaban itu tidak dibangun oleh algoritma AI semata. Ia dibangun oleh nalar manusia yang jernih, berani, dan kritis. Di atas segalanya, perlu kebersamaan, yang koheren.

AMH
Agus Muhamad Hatta

Leave a comment

Trending