Menjemput Matahari di Atas Ombak

Photo by Pixabay on Pexels.com

Jumat, 13 Februari 2026 di Gili Ketapang, Probolinggo. Delegasi Innovate UK dan Kedutaan Besar Inggris datang membawa mitra industri. Mereka ingin melihat langsung apa yang sedang kita kolaborasikan. Solar2Wave.

Sayang sekali, saya kebetulan tidak bisa ikut merapat ke sana. Ada agenda lain di kampus.

Tapi tentu pikiran kami ada di Gili Ketapang. Pak Direktur Fadlilatul Taufany dan tim Direktorat Riset dan Pengabdian kepada Masyarakat (DRPM) ITS ikut mengawal proyek ini sejak dari embrio. Sejak proposalnya masih berupa lembaran ide. Mungkinkah kita menjemput matahari di atas ombak?

Namanya Solar2Wave. Pembangkit listrik tenaga surya terapung. Floating PV. Tapi bukan terapung di danau atau waduk. Ini di laut lepas. Menantang ombak. Menantang badai.

Itulah bedanya. Selama ini panel surya berebut lahan dengan manusia di darat. Padahal daratan kita makin penuh sesak. Kalaupun ditaruh di air, biasanya harus di perairan yang tenang.

Solar2Wave memecah kebuntuan itu. Ia dirancang dengan pelampung khusus dan pemecah gelombang. Air laut yang dingin justru menjadi pendingin alami, membuat efisiensi panelnya naik 10 sampai 15 persen.

Bagi negara kepulauan seperti Indonesia, ini adalah jalan keluar yang elegan. Lepaskan pulau-pulau kecil itu dari cengkeraman generator diesel yang bising, mahal logistiknya, dan mengotori udara.

Aktor utama proyek dan inovasi ini adalah Prof. I Ketut Aria Pria Utama (IKAP). Dosen Teknik Perkapalan, sekaligus Kepala Pusat Studi Sains dan Teknologi Kelautan-Kebumian ITS. Prof. IKAP memimpin tim kolaboratif dosen, mahasiswa, dan praktisi industri dari dua negara. Mengubah teori di atas kertas menjadi besi, kabel, platform, hingga menjadi energi listrik. Menginspirasi

Keberanian di Gili Ketapang itu sebenarnya adalah jawaban dari skala lokal untuk kepanikan berskala global. Sembari membayangkan ombak Probolinggo, saya membaca laporan terbaru dari Nature pekan ini, “Can the clean-energy revolution save us from climate catastrophe?”.

Laporan Jeff Tollefson itu memaparkan tujuh grafik utama. Salah satunya menunjukkan betapa drastisnya penurunan harga teknologi fotovoltaik dan baterai. Penurunan harga ini memicu adopsi energi surya dan angin yang tak lagi linier. Melainkan eksponensial. Di beberapa negara, energi terbarukan kini lebih murah dibandingkan membangun pembangkit listrik konvensional. Kita sedang berlari kencang. Revolusi energi bersih sedang meledak.

Tapi di sisi lain, kurva ketergantungan pada bahan bakar fosil masih tinggi. Permintaan energi global yang terus meroket menelan mentah-mentah tambahan pasokan energi bersih tersebut. Emisi karbon global belum benar-benar menukik turun. Pertanyaan utama artikel itu, apakah pertumbuhan energi bersih ini punya cukup waktu untuk mencegah bumi menyentuh titik kritis pemanasan global?

Jeff menggarisbawahi urgensi inovasi radikal. Transisi cepat ini sering terbentur lambatnya jaringan transmisi dan keterbatasan lahan daratan. Maka, mengekspansi pembangkit surya ke wilayah tak lazim, seperti laut lepas, bukan lagi sekadar ide futuristis. Itu ikhtiar. Kita berpacu dengan waktu.

Sebagai penutupnya, Jeff memberi pesan, teknologi mutakhir dan energi murah tidak otomatis menyelamatkan bumi. Dunia justru butuh komitmen politik tingkat tinggi dan aksi kolektif global. Harus ada keberanian. Political will yang radikal. Memangkas subsidi fosil agar laju transisi mengalahkan cepatnya pemanasan global.

Di Indonesia, tantangannya bisa jadi lebih berat. Kita tidak hanya berpacu melawan waktu dan iklim global. Kita berpacu melawan pekerjaan rumah kita sendiri.

Selama ini, ujung telunjuk kita selalu terarah pada satu hal. Politik. Kebijakan lamban. Lobi industri fosil. Benar adanya. Tapi, mari instrospeksi. Ada satu yang luput dari pandangan kita. Kesiapan Sumber Daya Manusia. Spesifiknya, kesiapan pekerja hijau. Green jobs.

Apa itu green jobs? Secara sederhana, ini profesi yang berkontribusi langsung pada pelestarian lingkungan. Ruang lingkupnya luas. Bukan sekadar tukang pasang panel surya. Ini mencakup insinyur yang mendesain pelampung tahan korosi, ahli peracik baterai tahan cuaca tropis, hingga analis data karbon. Mereka adalah tulang punggung masa transisi ini.

Mari lihat datanya. Bappenas mencatat, realitas pekerja hijau kita hari ini masih sangat kecil. Jumlahnya baru 3,66 juta orang, atau hanya sekitar 2,6 persen dari total angkatan kerja nasional. Padahal, untuk menyukseskan ekonomi hijau dalam dua dekade ke depan, Indonesia ditargetkan menciptakan 15,3 juta lapangan kerja baru. Ada gap di sana. 11,64 juta manusia!

Kita defisit 11,64 juta SDM terampil. Jika dirata-rata, sistem pendidikan kita harus melahirkan lebih dari setengah juta pekerja hijau setiap tahunnya. Ini adalah “kuota” yang harus dipenuhi oleh kampus-kampus kita.

Menariknya, tepat di hari Jumat yang sama, saya mendapat kiriman notulensi dari Prof. Henmaidi dari Universitas Andalas. Isinya tentang paparan Prof. Dato’ Seri Ir. Dr. Zaini Ujang dari Malaysia di acara Kementerian Dikti Saintek mengenai World Class University (WCU). Membacanya, saya seperti menemukan kepingan puzzle penting.

Selama ini kita sering terjebak. Mengira WCU itu soal banyaknya mahasiswa dan dosen asing, atau sekadar memoles papan skor ranking global. Padahal, WCU sejati adalah soal dampak. Soal menyelamatkan devisa dan menjaga agar talenta terbaik tidak lari ke luar negeri.

WCU tidak dibangun di level gedung, melainkan di level manusia.

Di Malaysia, syarat menjadi profesor bukan sekadar tumpukan dokumen administratif. Dosen dituntut memiliki minimal 100 publikasi ilmiah. Memimpin grup riset berisikan 5 hingga 20 orang. Dan mampu menarik hibah miliaran rupiah.

Itu cara sebuah sistem memaksa lahirnya ekosistem ilmu. Profesor tidak lagi sekadar “pengajar senior”. Mereka dipaksa menjadi motor penggerak reputasi, penarik pendanaan, dan pembina generasi peneliti muda.

Lalu, mari tarik benang merahnya ke proyek Solar2Wave dan defisit 11,64 juta SDM tadi. Siapa yang akan mendidik jutaan talenta itu? Siapa yang akan memimpin konsorsium riset global ke depan?

Kita harus jujur. Ekosistem riset di Tanah Air masih butuh pembenahan berkelanjutan. Jumlah dosen dan guru besar dengan rekam jejak memimpin konsorsium global harus terus digenjot. Mengejar standar WCU tadi.

Transisi energi bukan sekadar mengganti mesin diesel dengan panel surya. Ini adalah transisi kualitas manusianya.

Riset harus diorkestrasi ulang. Kurikulum harus dirombak agar mahasiswa berani mengambil risiko. Bahkan menjadi pencipta kerja. Kita tidak bisa lagi hanya berhenti pada wacana dan keluhan. Itulah mengapa, perlahan tapi pasti, kita harus berupaya memperbaiki sistemnya.

Berbagai program Kampus dan Riset Berdampak, baik di sektor hilir maupun hulu, telah diluncurkan oleh Kemendikti Saintek maupun masing-masing perguruan tinggi. Namun, yang tak kalah penting adalah perwujudan nyata komitmen peningkatan anggaran riset. Itu semua adalah ikhtiar kita bersama untuk menjawab krisis tersebut.

Tujuannya satu. Menciptakan ruang bagi riset high-risk, high-reward. Kolaborasi lintas disiplin harus dipaksa terjadi. Agar inovasi pendobrak seperti Solar2Wave bisa direplikasi lebih masif. Dosen dan guru besar kita harus difasilitasi penuh. Lalu, didorong ke garis depan untuk memimpin konsorsium global.

Jika revolusi energi bersih benar-benar akan terwujud, maka revolusi itu harus dimulai dari dalam kelas dan meja laboratorium kita sendiri.

Pembangkit listrik tenaga surya telah terapung di Gili Ketapang. Kini, giliran 11 juta talenta itu yang harus segera kita cetak. Dan tanggung jawab itu ada di pundak perguruan tinggi dan tentu kita semuanya. Waktu kita tidak banyak.

AMH
Agus Muhamad Hatta

Leave a Reply

Discover more from Agus Muhamad Hatta

Subscribe now to keep reading and get access to the full archive.

Continue reading