
Rabu, 10 Desember. ITS menggelar acara Penyerahan Tali Asih bagi Pegawai Purna Tugas serta Ahli Waris. Dosen dan Tenaga Kependidikan. Acaranya bidang 3. Tentu hadir, Pak Imam Baihaqi, selaku wakil rektor, dan Pak Trika Pitana selaku Direktur SDMO.
Saya duduk dan mengamati sekeliling. Mata saya tertumbuk pada sosok-sosok yang saya kenal baik.
Dulu, ketika saya masih mahasiswa atau dosen muda, mengenal mereka sebagai “pendaki yang tangguh”. Saat rambut mereka masih hitam, merekalah yang berlari paling kencang.
Merekalah yang mengejar hibah riset, berkolaborasi dengan indsutri, membangun laboratorium dari nol, dan berdebat keras demi kurikulum terbaik. Mereka juga yang giat melayani di laboratorium, kemahasiswaan, sarana prasarana hingga perpustakaan.
Arthur C. Brooks, dalam bukunya From Strength to Strength, menyebut fase itu sebagai era Fluid Intelligence. Kecerdasan cair. Era di mana kekuatan fisik, kecepatan berpikir, dan ambisi penaklukan menjadi andalan.
Namun hari ini, saya melihat sesuatu yang berbeda.
Rambut mereka telah memutih. Tubuh fisiknya tentu tidak seperti muda dulu. Tapi sorot matanya teduh. Mereka tidak kehilangan kecerdasan, mereka justru bertransformasi. Mereka telah beralih ke Crystallized Intelligence. Kecerdasan yang mengkristal.
Mereka tidak lagi menawarkan kecepatan, tapi menawarkan kedalaman. Mereka tidak lagi bicara soal “bagaimana caranya”, tapi “untuk apa tujuannya”.
Pak Rektor naik ke podium. Suaranya bergetar. Beliau tidak menyembunyikan rasa harunya.
Ucapan terima kasih mengalir tulus. Bukan sekadar apresiasi pimpinan kepada anggotanya. Melainkan penghormatan seorang murid kepada gurunya. Seorang penerus kepada perintisnya.
Ada juga momen yang membuat hati teriris. Saat nama-nama pegawai yang telah berpulang dipanggil. Kursi mereka kosong, digantikan oleh ahli waris. Istri, suami, atau anak. Di situ kita diingatkan. Jabatan itu sementara, tapi jejak kebaikan itu abadi.
Lalu, tibalah momen berikutnya.
Perwakilan purna tugas dosen, Pak Suasmoro. Beliau guru kami, purna tugas Guru Besar Fisika. Beliau berdiri menyampaikan pesan. Tidak ada slide presentasi. Tidak ada grafik statistik. Hanya kata-kata sederhana yang lahir dari pengalaman puluhan tahun.
Ia menceritakan suka duka di ITS. Lalu, ia menitipkan satu pesan kunci kepada kami, para pimpinan dan dosen serta tendik yang masih aktif.
“Jangan lupakan misi utama kampus,” katanya. “Yakni mencerdaskan kehidupan bangsa.”
Sederhana. Mendalam.
Pesan ini mengingatkan saya pada tesis David Brooks dalam bukunya, The Second Mountain.
David Brooks menulis, hidup ini seperti mendaki dua gunung.
Gunung Pertama adalah tentang ego. Tentang “Saya”. Kita mendakinya saat muda. Mengejar karir, memburu gelar, mencari validasi, dan membangun reputasi. Sebagian kami yang hadir di ruangan ini, yang masih aktif bekerja, sedang sibuk mendaki gunung pertama ini.
Namun, para purnabakti di hadapan saya ini telah selesai dengan gunung pertama. Mereka kini berdiri kokoh di Gunung Kedua.
Gunung Kedua bukan lagi tentang “Apa yang bisa saya dapatkan dari dunia?”, melainkan “Apa yang dunia butuhkan dari saya?”
Di Gunung Kedua, fokus bergeser dari kesuksesan menuju makna. Dari kemandirian (saya hebat) menuju ketergantungan (kita saling butuh).
Ambisi pribadi perlahan meluruh, berganti menjadi dedikasi murni. Kita tidak lagi sibuk memperbesar resume agar dikagumi, tetapi sibuk memperluas hati agar bisa lebih banyak memberi.
Pesan sang dosen tadi adalah bukti nyata mentalitas Gunung Kedua. Ia tidak menyinggung tentang reputasi dan ranking. Ia tidak berpesan agar gedung tinggi diperbanyak. Ia berpesan tentang “mencerdaskan bangsa”. Itu adalah pesan moral. Itu adalah panggilan jiwa.
Namun, sebuah pertanyaan mengusik batin saya. Haruskah kita menunggu pensiun untuk mendaki Gunung Kedua?
Jawabannya. Tidak.
Justru bahaya terbesar adalah jika kita berpikir pengabdian tulus hanya milik para pensiunan. Kita bisa, dan seharusnya, mendaki kedua gunung itu secara beriringan.
Acara tali asih ini menjadi cermin besar bagi kami.
Kami melihat masa depan kami sendiri pada wajah-wajah sepuh itu. Kami diingatkan, bahwa “Kutukan Sang Pekerja Keras” (The Striver’s Curse), ketakutan menjadi tidak relevan saat tua, bisa diatasi jika kami mau mengubah mindset.
Bahwa pensiun bukan berarti “habis”. Pensiun adalah wisuda dari Gunung Pertama untuk mulai mendaki Gunung Kedua dengan sepenuh hati.
Terima kasih, para senior, guru, dan rekan sejawat, para dosen dan tenaga kependidikan yang purna tugas.
Bapak dan Ibu telah mengajarkan bahwa prestasi tertinggi di kampus ini bukanlah hanya mengantarkan pada reputasi global, melainkan seberapa tulus hati kita terikat pada misi kemanusiaan.
Selamat menikmati puncak Gunung Kedua. Doakan kami yang masih berjuang di lereng gunung pertama ini, agar tidak tersesat jalan.
AMH
Agus Muhamad Hatta
