DNA Juara

Photo by Adam Knl on Pexels.com

Apa sebenarnya hakikat “Juara”?

Seringkali kita menyempitkan maknanya sebatas piala di atas lemari atau medali yang dikalungkan di leher. Padahal, dalam pandangan saya, juara adalah sebuah mentalitas.

Juara adalah tentang keberanian untuk eksplorasi. Keberanian untuk merantau, baik secara fisik maupun pemikiran. Seseorang yang berani meninggalkan kenyamanan “kampung halaman” untuk menembus belantara ketidakpastian. Itulah bibit juara sejati.

Juara bukan sekadar mengalahkan orang lain dalam lomba, tapi mengalahkan ketakutan diri sendiri untuk mencoba hal baru.

Kabar membanggakan datang dari Jakarta. Kemendiktisaintek memberikan anugerah kepada institusi yang tak lelah bereksplorasi. Dalam ajang Anugerah Diktisaintek 2025, ITS memperoleh beberapa penghargaan, di antaranya Gold Winner untuk kategori “Institusi Perguruan Tinggi Akademik Klaster Mandiri dengan Skor Penelitian Tertinggi periode 2022-2024”, Terbaik dalam Pengelolaan Sumber Daya, Silver Winner kategori Kerja Sama Industri Terbaik, dan Silver Winner Siaran Pers. Tentu, kampus-kampus PTN dan PTS juga banyak yang memperoleh anugerah ini.

Ini pencapaian luar biasa. Sebuah pengakuan atas kerja keras para dosen, tenaga kependidikan, mahasiswa, dan pimpinan yang “tekun merantau” untuk eksplorasi.

Namun, bicara soal keberanian berpindah zona nyaman demi mencari esensi juara, ingatan saya justru melayang pada satu sosok peneliti dunia. Seseorang yang mendefinisikan ulang apa itu “DNA Juara”.

Namanya Allan Snyder.

Dulu, saat saya menempuh studi pascasarjana dan berjibaku dengan riset serat optik, buku karangan Snyder (bersama John Love), “Optical Waveguide Theory”, adalah kitab rujukan. Penuh cacing-cacing integral. Itu adalah buku babon yang menjelaskan bagaimana cahaya merambat, memantul, dan terperangkap di dalam serat kaca yang lebih tipis dari rambut manusia.

Tanpa teori Snyder, mungkin internet yang kita nikmati hari ini tidak secepat ini. Saya pun memanfaatkan rumusnya. Konsep Serat Optik Singlemode-Multimode-Singlemode (SMS) yang saya tekuni, akarnya ada di dasar teori yang ia letakkan beberapa dekade yang lalu.

Pada tahun 2001, Snyder dianugerahi Marconi Prize. Penghargaan tertinggi di dunia telekomunikasi yang sering disebut sebagai “Nobel-nya Telekomunikasi”. Ia juga dinobatkan sebagai Fellow of the Royal Society (FRS), sebuah perkumpulan ilmuwan elit yang anggotanya mencakup Isaac Newton hingga Stephen Hawking. Ia juga menerima Australia Prize (1997) atas jasanya pada ilmu pengetahuan.

Secara logika akademik, ia sudah di puncak dunia. Ia tinggal duduk tenang menikmati masa tua sebagai legenda fisika.

Namun, manusia satu ini memang ajaib. Jiwa “perantau”-nya memberontak.

Ia merasa fisika optik sudah “selesai”. Ia ingin tantangan baru. Ia pun banting setir. Meninggalkan laboratorium optik, masuk ke laboratorium manusia. Ia mendirikan Centre for the Mind. Ia ingin membedah “serat optik” yang ada di kepala manusia. Jaringan saraf otak.

Dari cahaya fisik, menuju cahaya pikiran. Dari Marconi Prize, menuju misteri otak manusia.

Apa yang dicari seorang ahli optik di dalam otak manusia?

Rupanya, Snyder penasaran dengan fenomena Savant. Orang-orang yang seringkali memiliki gangguan perkembangan (seperti autisme) tapi punya kemampuan “super”.

Ada yang bisa menggambar panorama kota Roma dengan detail presisi fotografis hanya dengan sekali lihat. Ada yang bisa menghitung perkalian rumit layaknya kalkulator dalam hitungan detik.

Pertanyaan Snyder sederhana tapi tajam, “Kenapa otak mereka bisa, sedangkan otak “orang normal” seperti kita tidak bisa?”

Di sinilah latar belakang fisikanya bekerja. Snyder melihat otak manusia bekerja seperti filter optik.

Menurut risetnya, otak manusia normal didesain untuk menyederhanakan informasi. Ketika kita melihat kursi, otak kita membuang detail serat kayunya, membuang detail pantulan cahayanya, dan hanya melabelinya sebagai “Konsep Kursi”. Ini mekanisme evolusi supaya kita bisa berpikir cepat dan bertahan hidup. Kita berpikir menggunakan konsep (conceptual mindset).

Sebaliknya, para savant memiliki kerusakan di otak kiri bagian depan (Left Anterior Temporal Lobe). Akibatnya, mereka tidak punya filter konsep itu. Mereka melihat dunia apa adanya (raw data). Mereka melihat detail yang luput dari mata kita. Itulah sebabnya gambar mereka sangat presisi. Mereka menggambar apa yang mata lihat, bukan apa yang otak “persepsikan”.

Snyder tidak berhenti di teori. Ia melakukan eksperimen gila untuk membuktikannya. Ia menciptakan apa yang disebut “Thinking Cap”.

Ia menggunakan Transcranial Magnetic Stimulation (TMS). Gelombang magnetik yang ditembakkan ke kepala relawan sehat untuk “mematikan” sementara area otak kiri tersebut (area yang cerewet mengurusi konsep dan logika).

Hasilnya mengejutkan.

Orang biasa yang memakai topi itu, tiba-tiba kemampuan menggambarnya meningkat drastis. Kemampuan proofreading-nya jadi tajam. Kemampuan estimasi jumlah benda menjadi akurat.

Kesimpulan Snyder “ngeri”: Kita semua sebenarnya jenius. Kemampuan savant itu ada di dalam diri kita semua. Tertidur. Tapi tertutup oleh “kacamata konsep” dan logika yang kita bangun sendiri lewat pendidikan dan pengalaman.

Teori tentang “potensi tersembunyi” ini kemudian diuji di panggung dunia. Olimpiade Sydney 2000.

Tuan rumah Australia butuh prestasi. Mereka tidak ingin cuma sukses penyelenggaraan, tapi jeblok di medali. Komite Olimpiade Australia (AOC) tidak memanggil pelatih fisik tambahan. Mereka memanggil Allan Snyder. Ia diminta melatih otak atlet.

Snyder mengajarkan para atlet elit itu untuk mengakses kondisi “tanpa filter” tadi. Ia menanamkan pemahaman: “Di level Olimpiade, fisik semua orang sama kuatnya. Yang membedakan emas dan perak adalah siapa yang bisa mematikan rasa takut dan keraguan di kepalanya.”

Snyder melatih mereka masuk ke flow state. Kondisi di mana atlet bergerak berdasarkan insting murni (raw data), tanpa diganggu oleh analisis berlebihan atau ketakutan akan kegagalan.

Hasilnya? Sejarah mencatat. Australia meraih 58 medali (16 Emas), menempati peringkat 4 dunia. Prestasi perolehan medali terbanyak mereka sepanjang masa.

Dari laboratorium otak hingga podium Olimpiade, Snyder kemudian merangkum temuannya dalam buku “What Makes a Champion!”.

Ia mewawancarai 50 tokoh dunia (Nelson Mandela, Edmund Hillary, para CEO). Ia menemukan bahwa para Juara (Champion) adalah mereka, yang secara sadar atau tidak, mampu mengakses “raw data” tersebut. Mereka mampu menembus filter logika umum.

Ia menyimpulkan ada 4 Pola Kunci yang selalu hadir dalam DNA seorang juara sejati.

Pertama, The Gift of Adversity (Anugerah Kesulitan). Hampir semua juara punya masa lalu yang “luka”. Bagi orang biasa, luka adalah trauma. Bagi juara, luka mematikan rasa takut gagal. Otak mereka belajar bahwa “jatuh itu biasa”. Ini membuat mereka resilien.

Kedua, The Power of Alienation (Kekuatan Rasa “Asing”). Para juara sering merasa outsider. Tidak cocok dengan kelaziman. Karena merasa “beda”, mereka tidak peduli dengan validasi orang lain. Mereka bebas berinovasi tanpa beban sosial.

Ketiga, Childlike Curiosity (Rasa Ingin Tahu Bocah). Ini berhubungan dengan teori Thinking Cap tadi. Anak kecil belum punya banyak konsep di otaknya, jadi mereka melihat dunia dengan takjub. Juara menjaga otak kanak-kanak ini tetap hidup. Mereka selalu bertanya “Why not?”, di saat orang dewasa berkata “It’s impossible”.

Keempat, Selective Obsession (Obsesi Terpilih). Fokus mereka setajam laser. Mereka memblokir semua gangguan (noise) dan hanya memproses sinyal yang relevan dengan tujuan mereka.

Membaca perjalanan Allan Snyder, saya jadi merenung sebagai seorang pendidik.

Tugas kita di kampus bukan sekadar mengisi kepala mahasiswa dengan rumus-rumus. Seperti rumus waveguide Snyder yang dulu saya pelajari. Penguasaan teknis itu mutlak, namun itu baru separuh jalan. Di era digital ini, data dan informasi kian mudah diakses.

Tugas kita yang jauh lebih berat, dan tidak bisa disediakan oleh Google maupun Gen AI, adalah menginstal software mental juara itu.

Snyder membuktikan bahwa kita tidak perlu menambah kepintaran baru. Kita hanya perlu keberanian untuk membongkar batas pikiran sendiri. Kadang, untuk menjadi juara, kita harus berani “mematikan” logika ketakutan kita, dan mulai melihat dunia dengan mata telanjang.

Mental juara itu tidak dilahirkan. Ia ada di dalam sana, menunggu untuk dibangunkan.

AMH
Agus Muhamad Hatta

Leave a Reply

Discover more from Agus Muhamad Hatta

Subscribe now to keep reading and get access to the full archive.

Continue reading