
Sahabat, pagi ini kita tidak sekadar berpindah kalender.
Secara astronomis, kita sedang berada di atas “pesawat ruang angkasa” bernama Bumi yang melesat dengan kecepatan 107.000 kilometer per jam mengelilingi matahari. Secara eksistensial, alam semesta, kita tidak pernah diam. Kita sedang berselancar di atas ruang yang terus tumbuh, dan waktu yang tak pernah kembali. Kita tidak pernah berada di titik koordinat yang sama dua kali.
Namun, sebelum kita memacu gas di 2026, mari kita melihat cermin di tahun 2025. Sebuah audit atas keberadaan kita sebagai manusia.
Sepanjang tahun lalu, untuk sekadar bertahan hidup; setiap orang dari kita telah menyerap bersih 740 kilogram oksigen. Kita telah membasuh diri dan menghidrasi sel dengan 52.560 liter air. Di meja makan, kita menghabiskan rata-rata 81 kg beras, 12 kg daging dan beberapa kilogram lauk pauk, sayur mayur, buah-buahan dan makanan. Itu yang kita ambil untuk energi biologis kita.
Lalu, bagaimana dengan energi gaya hidup kita? Statistik 2025 mencatat setiap satu orang dari kita rata-rata mengonsumsi 305 liter BBM dan menyedot 1.448 kWh listrik.
Di dunia digital, jejak kita pun tak kalah masif. Rata-rata orang Indonesia menghabiskan 7 hingga 8 jam per hari untuk berinternet, dengan konsumsi data mencapai 30-40 GB per bulan. Kita begitu sibuk di dunia maya, seringkali melebihi durasi interaksi kita di dunia nyata.
Namun, lihatlah apa yang kita tinggalkan. Satu orang dari kita menyumbang hampir 300 kilogram sampah ke pundak bumi. Dan yang paling menyesakkan, semua aktivitas konsumsi kita itu menghasilkan jejak karbon (emisi CO₂) rata-rata 2,2 hingga 2,5 ton per orang.
Untuk menebus emisi sebesar itu, diperlukan setidaknya 100 hingga 150 pohon dewasa yang tumbuh selama setahun penuh. Padahal, alih-alih menanam, secara tidak langsung kita justru bertanggung jawab atas hilangnya hutan lindung seluas 6 hingga 10 meter persegi per kapita.
Setiap tahun, satu kepala dari kita “mencukur” hutan seluas kamar tidur. Di tahun 2025, kita adalah tamu yang sangat boros di planet ini, baik di alam fisik maupun di ruang digital.
Dua Abad Diponegoro Tahun 2025 juga menandai memori besar. Tepat dua abad lalu, 1825, Pangeran Diponegoro menyalakan api perlawanan. Beliau melawan bukan sekadar soal pajak, melainkan demi menjaga martabat “ruang hidup” dari keserakahan yang merusak tatanan.
Dua ratus tahun kemudian, pertanyaannya tetap sama, apakah kita masih layak disebut penjaga kehidupan? Ataukah kita sedang menjadi “penjajah” baru bagi sesama dan anak cucu kita sendiri dengan mewariskan kerusakan dan egoisme?
Saat ini, kita bicara target pertumbuhan ekonomi dan akselerasi AI. Peradaban macam apa yang kita bangun jika kemajuan hanya diukur dari angka, sementara empati antar-manusia kian retak? AI bisa menghitung algoritma masa depan, tapi ia tidak bisa merasakan pedihnya sesama yang terpinggirkan. Hanya manusia yang memiliki mandat sebagai penjaga keseimbangan.
Memasuki 2026, kita butuh kompas moral yang lebih tajam dari sekadar target lingkungan atau ekonomi.
Leo Tolstoy, seorang sastrawan. Dalam cerpen-nya, “The Three Questions”, merangkum navigasi hidup dalam tiga jawaban universal yang dapat kita bawa dalam setiap langkah.
Kapan waktu terbaik untuk bertindak? Jawabannya adalah, Sekarang. Satu-satunya waktu di mana kita memiliki kuasa adalah saat ini. Menunda kepedulian, menunda kebaikan, atau menunda aksi nyata adalah bentuk kehilangan momentum kemanusiaan.
Siapa orang yang paling penting? Jawabannya adalah, Orang yang sedang Bersama kita saat ini. Bukan tokoh jauh di media sosial, bukan pula kepentingan asing. Orang yang ada di hadapan kita, keluarga, rekan kerja, tetangga, atau orang lain yang membutuhkan bantuan. Merekalah prioritas hidup kita saat ini.
Apa hal yang paling penting untuk dilakukan? Jawabannya adalah, Berbuat baik kepada orang tersebut. Bukan sekadar berniat, tapi aksi nyata. Tujuan hidup manusia adalah untuk melayani sesama dan menjaga keharmonisan di tempat ia berpijak.
Selamat datang di 2026.
Mari kita berselancar di ruang-waktu yang baru ini dengan kesadaran penuh. Bahwa setiap detik adalah kesempatan untuk memberi, setiap pertemuan adalah amanah untuk peduli, dan setiap tindakan nyata adalah bayaran atas oksigen yang telah kita hirup secara gratis.
Semoga kita semakin menjadi manusia unggul yang tidak hanya cerdas otaknya, tapi juga hidup jiwanya.
AMH
Agus Muhamad Hatta
