
Saya menatap pigura di tangan. Sebuah piagam apresiasi.
Kalimat di sana merasuk hati, “Bangsa ini maju bukan hanya oleh orang pintar, tetapi oleh mereka yang memilih hadir dan mengabdi.”
Tertanda: Menteri Transmigrasi RI, M. Iftitah Sulaiman Suryanegara.
Selasa siang, 23 Desember 2025. Di Jakarta.
Ini acara penutupan Tim Ekspedisi Patriot (TEP) 2025. Tapi suasananya beda. Bukan sekadar seremonial.
Bayangkan. TEP 2025 ini bukan kunjungan lapangan biasa. Ini adalah sebuah gerakan intelektual kolosal.
Ada 2.000 peneliti dan mahasiswa dari tujuh perguruan tinggi yang memilih “turun gunung”. Mereka menyebar ke 154 kawasan transmigrasi.
Lihatlah para peserta yang hadir luring dan daring.
Di sisi Universitas Indonesia, duduk Dr. L.G. Saraswati Putri. Publik mengenalnya sebagai penyanyi “Lembayung Bali”. Tapi di sini, ia hadir sebagai Direktur Pengabdian Masyarakat UI. Seorang dosen yang mengawal inovasi sosial.
Di sisi ITS, ada senior saya. Ketua Dewan Profesor Prof. Imam Robandi. Sang Guru Besar Teknik Elektro. Tapi ia juga seorang Dalang Wayang Kulit yang mumpuni.
Ada Diva. Ada Dalang. Para pimpinan 7 PTNBH. Ribuan mahasiswa. Para dosen pejuang. Para Panelis. BAPPENAS. BRIN. Tentu Jajaran Kementerian Transmigrasi.
Komposisi ini menyadarkan saya. Membangun transmigrasi tak cukup dengan semen, aspal, dan traktor. Ia butuh “lagu” untuk menyentuh hati. Ia butuh “lakon” yang dimainkan dengan presisi.
Melihat Mbak Saraswati, ingatan saya melayang pada lirik lagunya:
“Bilakah diriku berucap maaf… Masa yang tlah kuingkari dan meninggalkanmu…”
Lirik itu membangkitkan kesadaran kita.
Bertahun-tahun kawasan transmigrasi menjadi “masa yang diingkari”. Kita meninggalkan mereka. Membiarkan mereka bertarung sendirian di lahan gambut. Di area minim infrastruktur. Di desa tanpa sinyal. Tanpa teknologi.
Kita di kota, sibuk dengan kenyamanan, dan abai pada saudara di pinggiran.
Tapi TEP 2025 datang untuk “menebus” pengingkaran itu.
Saat diminta memberi testimoni, saya ucapkan satu kata, “Mencerahkan.” Sebuah frasa kunci, “From blind spot to bright spot.” Bahwa kawasan transmigrasi memang perlu infrastruktur, namun juga membutuhkan “data” dan “hati”.
Kawasan yang dulu gelap data dan gelap perhatian, kini jadi titik terang. Mahasiswa dari ITS, UI, UGM, ITB, IPB, Unpad, dan Undip telah turun ke lapangan. Tembok menara gading runtuh. Membawa semangat kekeluargan dan kebangsaan.
Hasil diagnosis mereka di lapangan menggambarkan keadaan. Potensi ekonominya raksasa. Tapi tata kelolanya lemah. Investasi belum masuk karena tidak tahu.
Maka, Pak Menteri, Pak “Suryanegara”, tak mau lagi ada penantian sia-sia. Ia butuh lakon baru.
Di sinilah ada filosofi sang Dalang, Prof. Imam Robandi. Seperti dalang menancapkan kayon, Pak Menteri menetapkan babak baru. Program 2026.
Lakonnya dibagi tiga.
Pertama, Patriot Bakti Nusantara. Fokus fisik. Air, sekolah, jalan. Aksi nyata, bukan wacana.
Kedua, Patriot Investasi Nusantara. Kampus bikin Feasibility Study (FS). Hitung risiko, hitung cuan. Agar investor mau masuk. Inilah Science-Based Policy.
Ketiga, ini lakon utamanya, Beasiswa Patriot S2.
Ada 1.000 beasiswa. Mayoritas, 600 orang, untuk Indonesia Timur (Salor). Sisanya untuk Barat (Rempang) dan Tengah (Mamuju).
Mereka kuliah 10 bulan, lalu mengabdi 20 bulan di lokasi. Mereka dididik bukan sekadar jadi master, tapi jadi CEO Kawasan. Membawa “matahari” teknologi dan manajemen modern ke desa transmigran.
Kolaborasi ini menarik.
Ketajaman sains bertemu kehalusan rasa. Ketegasan strategi sang Dalang bertemu empati sang Seniman. Semua diorkestrasi oleh kepemimpinan Kementerian Transmigrasi..
Saat meninggalkan ruangan, lirik “Lembayung Bali” terasa punya makna baru. Bukan lagi lagu perpisahan. Tapi janji untuk kembali pulang.
Pulang membangun pinggiran.
Sepatu kami boleh berlumpur. Tapi kami pastikan: lumpur itu adalah semen bagi fondasi masa depan Indonesia.
Maju terus Transmigrasi!
AMH
Agus Muhamad Hatta
