
Pekan ini, sebuah berita tentang wajah pendidikan kita. Dari Kementerian Pendidikan Dasar dan Menengah. Hasil Tes Kemampuan Akademik (TKA) 2025 untuk siswa SMA. Rerata nilai Matematika hanya 36, dan Bahasa Inggris terpuruk di angka 24 (dari skala 100).
Angka ini bukan sekadar statistik. Ini sinyal waspada.
Tentu, kita harus bijak. Indonesia itu luas. Di sebagian wilayah, skor rendah terjadi karena ketiadaan akses. Jangankan AI, sinyal internet saja masih barang mewah. Di sana, tantangannya adalah kelangkaan.
Namun, Kemendikdasmen memberikan catatan kaki yang menarik. Kelemahan utama siswa bukan sekadar kurang materi, tapi lemahnya kemampuan analisis. Mereka terkena sindrom “missing clue”.
Siswa mampu menjawab jika jawabannya tertulis jelas di teks. Tapi begitu diminta menghubungkan data untuk menyimpulkan sesuatu yang tersirat, mereka macet. Sinyalnya putus.
Ini memunculkan paradoks yang menyedihkan.
Di satu sisi, saudara kita di pelosok berjuang dengan keterbatasan. Di sisi lain, mereka yang di kota dengan fasilitas melimpah dan akses AI di ujung jari, justru terancam “kemerosotan kecerdasan” karena dimanja kemudahan.
Paradoks inilah yang berkecamuk di kepala saya saat berdiri di koridor Kampus ITS, di suatu senja.
Saya melihat mahasiswa berlalu-lalang. Wajah mereka tampak lelah. Mata cekung. Rambut agak berantakan. Mereka baru saja keluar dari laboratorium, atau habis “diuji” dosen di ruang seminar.
Melihat wajah-wajah lelah itu, saya justru tersenyum.
Di balik wajah kuyu itu, saya melihat harapan. Mereka sedang menolak menjadi bagian dari statistik “missing clue” tadi. Mereka sedang menjalani sesuatu yang mahal, yang tidak bisa dibeli dengan langganan ChatGPT Plus sekalipun.
Namanya: Proses.
Hukum biologi otak itu adil. Tidak peduli Anda belajar di sekolah internasional dengan iPad, atau di sekolah kayu dengan buku lusuh, syarat menjadi pintar tetap satu. Kepala harus terasa “sakit”.
Mari kita bedah rasa sakit itu secara ilmiah.
Sebagai orang Teknik Fisika yang riset di dunia optik, saya melihat otak seberat 1,4 kg ini adalah hutan belantara. Di dalamnya ada 86 miliar neuron. Masalahnya, kabel antar neuron ini (akson) terpisah oleh jurang bernama Sinapsis.
Saat kita membaca novel ringan atau scrolling medsos, sinyal itu lewat di jalur yang sudah ada. Cepat. Tanpa hambatan. Suntikan dopamin instan. Rasanya enak dan ringan.
Saat kita mencoba memahami rumus Kalkulus, atau konsep Filsafat yang njelimet, sinyal listrik di otak dipaksa melompati jurang-jurang itu.
Rasanya pusing? Panas?
Itu tanda neuron sedang bekerja keras membabat alas. Mereka menebas semak belukar untuk menyambungkan kabel saraf. Itu kerja fisik. Oksigen disedot. Glukosa dibakar.
Jika kita bertahan dalam rasa sakit itu, otak akan mengirim pasukan khusus. Mereka membungkus jalur saraf baru itu dengan lapisan lemak bernama Myelin.
Dalam kacamata optik, Myelin ini fungsinya persis dengan Cladding (selubung pelindung) pada serat optik.
Tanpa Cladding yang tebal, sinyal cahaya informasi akan mudah bocor (loss) dan melemah. Begitu juga otak. Tanpa lapisan Myelin yang tebal, sinyal pikiran kita seperti kabel telanjang. Sinyalnya lambat dan rentan terkena “noise” (gangguan).
Fenomena “missing clue” pada hasil TKA 2025 sejatinya adalah bukti biologis bahwa lapisan myelin generasi kita “belum tebal”.
Lantas, bagaimana cara menebalkan myelin?
Berikut ini “Protokol” Penebalan Myelin yang sederhana.
Pertama, Jaga Kemurnian Sinyal (High SNR – Signal to Noise Ratio). Dalam optik, noise (gangguan) membunuh sinyal. Saat belajar, matikan notifikasi. Lakukan single-tasking.
Kedua, Sambung Konsep (Fusion Splicing). Jangan biarkan ilmu baru menggantung. Kaitkan ia dengan ilmu lama. Ibarat teknik fusion splicing yang menyambung dua kabel optik dengan panas tinggi agar presisi. Kita harus memanaskan otak dengan bertanya, “Apa hubungan materi baru ini dengan yang sudah saya ketahui?”.
Ketiga, Uji Beban (Active Recall). Ini kunci utamanya. Tutup buku, dan paksa otak mengingat kembali. Tegangan listrik tinggi yang muncul saat kita “bersusah payah” mengingat itulah yang sesungguhnya menebalkan lapisan myelin. Membaca ulang itu pasif. Mengingat kembali itu aktif.
Masalahnya, kita hidup di zaman instan. Saya cemas melihat fenomena “Sindrom Produk Akhir”. Mahasiswa ingin esai jadi dalam 5 menit. Peneliti ingin data teranalisis dalam 1 klik.
Ini ibarat mendaki Gunung Semeru pakai helikopter. Sampai puncak? Sampai. Fotonya bagus? Bagus. Tapi saat disuruh turun, kaki kita gemetar. Kita tidak punya otot pendaki. Kita mendapatkan “Puncak”-nya, tapi kehilangan “Gunung”-nya.
Jika kita ingin selamat dari jebakan ini, kita harus mengubah posisi AI. Dari “Joki Tugas” menjadi “Sparring Partner”.
Berikut adalah 3 Level Evolusi Belajar agar otak tetap bernalar dan Myelin tetap tumbuh di era AI.
Level 1. Uji, Jangan Telan (The Analogy Tester). Jangan tanya AI: “Apa itu Hukum Termodinamika?” (Otak Pasif). Tapi katakan: “AI, saya membayangkan ‘entropy’ itu seperti kamar kos yang kalau tidak dirapikan akan semakin berantakan dengan sendirinya. Apakah analogi saya valid secara fisika?” (Otak Aktif). Di sini, otak kita yang bekerja membuat konsep. AI hanya menjadi cermin validasi.
Level 2. Cari Petunjuk, Bukan Kunci Jawaban (The Socratic Hint). Saat macet mengerjakan soal sulit, jangan meminta jawaban lengkap. Katakan: “Saya macet di langkah ketiga penurunan rumus ini. Jangan beri jawaban! Cukup beri saya petunjuk (clue) tentang gaya apa yang mungkin saya lupakan.” Biarkan keringat dingin itu menetes sedikit. Rasa bingung itu mahal harganya untuk menebalkan myelin.
Level 3. Ajak Berdebat (The Critical Challenger). Tantang ide kita sendiri. “Saya berpendapat PLTN adalah solusi terbaik untuk listrik Indonesia. Hey AI, bertindaklah sebagai aktivis lingkungan yang skeptis. Bantah argumen saya dengan data!” Saat kita bertahan dari serangan argumen, critical thinking kita sedang ditempa.
Namun, memiliki Myelin tebal (Cerdas) saja belum cukup.
Di tulisan sebelumnya (Evolusi Orang Pintar) saya menyinggung bahwa masa depan bukan milik mereka yang sekadar pintar (Intelligence), tapi mereka yang bijaksana (Wisdom).
Mari kita kembali ke analogi optik.
Myelin yang tebal itu ibarat kita memiliki kabel serat optik kelas dunia. Bandwidth-nya besar. Datanya ngebut. Itu namanya Kecerdasan.
Tapi, kabel canggih itu buat apa jika sumber cahayanya ambyar? Di sinilah letak Kesadaran.
Jika Kecerdasan adalah Kabelnya, maka Kebijaksanaan adalah Sumber Cahayanya (Light Source).
Dalam fisika laser, ada istilah Koherensi. Cahaya laser itu istimewa karena gelombangnya selaras, satu fase, dan satu tujuan. Tidak incoherent (acak) seperti cahaya bohlam biasa.
Kebijaksanaan mensyaratkan ketenangan untuk menekan noise ego di kepala kita. Di sinilah peran “rasa sakit” dan “lelah” tadi berubah fungsi menjadi spiritual.
Saat kita sabar menahan lelahnya belajar. Baik dalam keterbatasan fasilitas maupun menahan diri dari godaan jalan pintas AI. Ego kita mereda. Saat ego mereda, noise hilang. Hanya dalam keadaan hening itulah, sinyal hati dan pikiran bisa menjadi Koheren.
Maka, berkaca pada hasil TKA itu. Jangan biarkan keterbatasan fasilitas mematahkan semangat, dan jangan biarkan kemudahan teknologi menumpulkan akal.
Cintailah kesulitan. Hargailah kebingungan.
Biarkan otak berkeringat. Biarkan nalar logika tersiksa sebentar. Karena di dalam “ketersiksaan” itulah intelegensia ditingkatkan. Di sanalah infrastruktur serat optik di kepala sedang dibangun, dan di sanalah cahaya kebijaksanaan sedang diselaraskan.
Ini mengingatkan saya pada nasihat Imam Syafi’i berabad-abad lalu yang relevansinya menembus zaman.
“Barang siapa yang tidak mampu menahan lelahnya belajar, maka ia harus mampu menahan perihnya kebodohan.”
Jadikan AI sebagai teman diskusi, bukan joki eksekusi. Karena jika kita terus-menerus melompati proses, suatu hari nanti kita akan sadar. Kita telah sampai di garis finis, tapi kita lupa caranya berlari.
AMH
Agus Muhamad Hatta
