Rumah Sakit dan AI

hand of a person and a bionic hand
Photo by cottonbro studio on Pexels.com

Rabu pagi, 15 Juli 2026. Ruang Serambi Mekkah RSUD Haji Provinsi Jawa Timur.

Ada kolaborasi strategis hari itu. Peluncuran ekosistem bernama HAJI C-AIRRe (Collaborative Artificial Intelligence and Robotic Research Innovation Ecosystem in Healthcare).

Turut hadir Rektor ITS, Rektor UNAIR, Dekan FTEIC Bu Diana Purwitasari, Dekan FKK ITS Pak dokter Lukman Hakim, dan segenap tim.

Direktur RSUD Haji Provinsi Jawa Timur, dr. Tauhid Islamy, Sp.OG., melontarkan sebuah realitas. Rumah sakit adalah institusi padat modal. Padat teknologi. Padat SDM. Tapi di saat yang sama, juga padat masalah.

Contoh nyatanya klaim BPJS Kesehatan. Sebelumnya, angka pending claim di RSUD Haji berkisar 40 hingga 50 persen. Setengah dari tagihan tertahan. Arus kas tersendat.

Tim ITS masuk berkolaborasi dengan RSUD Haji membangun sistem AI Mina. Staf cukup mengunggah rekam medis pdf. AI Mina membaca, memvalidasi dengan pedoman klinis, dan mencocokkannya dengan kodifikasi standar. Jika meleset, mesin memberi peringatan spesifik beserta alasannya.

Hasilnya, pending claim anjlok di bawah 5 persen. Inilah hilirisasi nyata. Riset diinkubasi, diuji coba, dan terbukti menyelamatkan fiskal rumah sakit.

Namun, efisiensi administratif ini sekadar pemanasan. AI Mina baru mengurus dokumen. Ruang yang jauh lebih besar menanti di ranah diagnostik klinis.

Pertanyaannya bukan lagi soal berapa cepat klaim diproses, melainkan siapa yang memegang keputusan atas hidup pasien.

Obrolan menjelang acara, Dekan FKK ITS, Pak dokter Lukman Hakim, melontarkan pertanyaan. Di era kecerdasan buatan, apakah manusia disembuhkan sepenuhnya oleh mesin robotik, atau tetap oleh dokter dengan teknologi cerdas? Jika keduanya tersedia, kita pilih yang mana?

Pertanyaan itu melempar ingatan saya sepuluh tahun silam di kelas Sistem Fotonika, Teknik Fisika ITS. Saat membahas topik komputasi optik, saya bertanya, mungkinkah suatu hari nanti komputer mampu menulis novel secara mandiri?

Waktu itu, gagasan tersebut terdengar seperti fiksi ilmiah. Hari ini, mesin tak hanya merangkai novel, tapi mulai merambah ruang gawat darurat. Diagnosis klinis masa depan akan menuntut daya komputasi raksasa dalam skala yang belum pernah kita bayangkan.

Kapasitas komputasi ini kelak tak lagi sanggup dipikul oleh cip silikon konvensional yang rakus daya dan mudah panas, sehingga menuntut lahirnya era komputasi berbasis cahaya atau fotonika.

Karena itulah photonics AI digadang sebagai penerus. Perusahaan seperti Lightmatter mulai memasarkan interkoneksi optik yang sanggup menyalurkan puluhan terabit data per detik antar-cip. Mengatasi kemacetan komunikasi GPU elektronik. Sebagian sudah memproses perkalian matriks langsung dalam bentuk cahaya, bukan arus listrik.

Bagi rumah sakit, lompatan teknologi ini bukan sekadar wacana laboratorium. Rendering MRI 3D, pemetaan genomik presisi, dan analisis visual diagnostik ribuan pasien sangat menuntut kecepatan pemrosesan data tingkat tinggi.

Membayangkan kapasitas komputasi masa depan yang nyaris tak terbatas itu, wajar muncul kegelisahan. Diskursus global mengemuka. Awal Juni lalu, hal ini dikupas majalah Nature.

How good are ‘AI doctors’ and will they take over medicine?

Laporan Nature menyodorkan angka mengejutkan. Large Language Model (LLM) terbaru mampu mendiagnosis pasien UGD dengan akurasi 67 persen, mengalahkan rata-rata dokter manusia (50-55 persen). Mata AI melalui machine vision memang jauh lebih tajam.

Inovasi iBrain2U untuk radiologi otak atau AI Mikroskop untuk mendeteksi TBC adalah buktinya. Pada hari itu teknologi tersebut dipamerkan di RSUD Haji.

Tapi mata yang tajam bukan berarti boleh mengambil alih tangan yang mengeksekusi. Wakil Gubernur Jawa Timur, Pak Emil Dardak, menjawab kegelisahan itu dengan tegas. AI hadir untuk memperkuat peran dokter, bukan menggantikan.

Meminjam istilah pakar di Nature, medicine is messy. Tubuh manusia bukanlah mesin pabrik yang keluhannya rapi sesuai diktat kuliah.

Ada frasa dari Wagub. Final call. Keputusan klinis pamungkas mutlak berada di tangan dokter.

Ini adalah letak ruh pengobatan. Ada empati, etika profesi, dan tanggung jawab nyawa yang tak bisa diserahkan pada deret algoritma.

Dalam ekosistem ini, etika dan empati dokter bertindak sebagai pagar pembatas moral. Tanpa kendali etis tersebut, sistem AI bisa menjadi liar. Artikel Nature memvalidasinya. Dari 31 LLM medis, 22 persen rekomendasinya berpotensi memicu bahaya fatal jika dieksekusi tanpa pengawasan manusia.

Mesin bisa cerdas. Ia bisa jadi “Si Presisi” yang tak pernah lelah membaca piksel. Tapi mesin tak pernah didesain untuk memikul beban moral. Dokter tetaplah “Si Penentu”, tindakan medis. Bukan sekadar akurasi statistik.

Inisiatif RSUD Haji membuka ekosistem ini patut mendapat apresiasi tinggi. Lewat HAJI C-AIRRe, dinding ego sektoral diruntuhkan. Ini bukan sekadar peresmian alat, melainkan orkestrasi sinergi antara RSUD Haji, ITS, Universitas Airlangga, hingga mitra NAIST Jepang.

Rumah sakit menjadi laboratorium hidup (working laboratory), kampus memasok algoritma dan teknologi, dan dokter tetap nakhoda keputusan.

Cetak biru kolaborasi ini harus diakselerasi ke skala nasional melalui tiga pilar.

Pertama, Integritas Data. Rumah sakit wajib membereskan digitalisasi rekam medis dan kebersihan data. Melompat ke diagnostik tanpa data kokoh hanya melahirkan AI buta.

Kedua, Kemitraan Setara. Perlu forum tetap yang mempertemukan klinisi dan periset sejak tahap riset, bukan hanya saat produk sudah jadi. Perlu ada peleburan ego sectoral. Kampus tidak hanya melempar algoritma jadi, dan rumah sakit tidak hanya menjadi objek uji coba.

Ketiga, Manusia sebagai Batas Akhir. Sehebat apa pun mesin, final call harus dikunci dalam prosedur operasional fasilitas kesehatan. Tanpa aturan penanggung jawab akhir, teknologi hanya menambah zona abu-abu.

Tiga pilar ini adalah syarat minimum agar HAJI C-AIRRe bisa direplikasi.

Slogan ekosistem yang diluncurkan pagi itu merangkum semuanya. From Research to Impact, From AI to Humanity.

Secanggih apa pun sistem komputasi dan teknologi yang kita rakit kelak, esensinya hanya satu. Teknologi harus takluk pada kemanusiaan.

AMH
Agus Muhamad Hatta

Leave a Reply

Tentang saya

Saya menaruh perhatian besar pada persilangan antara keunggulan riset akademik, mulai dari fotonika hingga instrumentasi, dengan implementasi nyata di masyarakat. Melalui ruang ini, saya berbagi gagasan mengenai ekosistem Science Techno Park, strategi membawa inovasi dari ruang kelas ke pasar, serta refleksi kepemimpinan dalam memajukan pendidikan tinggi kita.

Discover more from Agus Muhamad Hatta

Subscribe now to keep reading and get access to the full archive.

Continue reading