
Minggu pagi, 02 Agustus 2026, di Balikpapan. Tepatnya di pelataran Food Court Grand City. Di depan saya, berkumpul lebih dari 550 orang. Bersiap memeras keringat, menantang batas diri dalam ajang Run with Spirits. Acara ini digelar Ikatan Alumni ITS (IKA ITS) Balikpapan, dihadiri para alumni di lingkungan Kaltim, termasuk Ketua PW IKA ITS Kaltim, Cak Slamet. Juga hadir Rektor Institut Teknologi Kalimantan (ITK), Prof. Agus Rubiyanto, yang juga alumni ITS.
Jaraknya 5 kilometer. Tidak terlalu jauh bagi seorang atlet maraton, tapi cukup membuat napas tersengal bagi mereka yang sehari-hari hanya duduk di balik meja kerja.
Ketua IKA ITS Balikpapan, Cak Adhy Prasetya, tahu persis tantangan organisasi alumni. Lulusan kampus teknik ini tersebar di berbagai profesi. Masing-masing sibuk, susah mencari irisan waktu yang pas. “Jadi ya ide dari teman-teman semua alumni kami untuk berkumpul adalah olahraga ini,” ungkap Cak Adhy. Sebuah ide sederhana yang dieksekusi dengan meriah, patut didukung keberlanjutannya.
Di atas panggung, saya berdiri mewakili Rektor ITS, menyampaikan apresiasi dari kampus perjuangan. Ajang lari ini bukan sekadar memindahkan kaki dari garis start ke finish, apalagi pamer medali di media sosial. Ini tentang merajut kebersamaan, menyambung kembali silaturahmi yang mungkin sempat renggang oleh kesibukan.
Kata spirits pada acara ini tidak dipilih sembarangan. Di dalamnya ada daya juang dan ketangguhan. Dalam sains, teknik, maupun kepemimpinan, kita tahu formulanya. Pencapaian besar selalu dimulai dari langkah kecil yang konsisten. Karena itu, melalui momentum lari bersama ini, saya mengajak seluruh alumni ITS dan masyarakat Balikpapan memupuk tiga spirits utama.
Pertama, Semangat Kebersamaan. Di mana pun berada, kekeluargaan harus dirawat, saling mendukung dan menguatkan.
Kedua, Semangat Inovasi dan Kontribusi. Keahlian teknis alumni harus menjadi solusi nyata bagi tantangan pembangunan bangsa, terutama di Kalimantan Timur. Kepedulian sosial dan kepakaran harus berjalan beriringan.
Ketiga, Semangat Hidup Sehat. Ini yang utama. Menyeimbangkan produktivitas kerja yang tinggi dengan kesehatan jasmani dan rohani. Sebab inovasi yang hebat menuntut fisik yang kuat.
Namun, justru hal ini memunculkan kegelisahan. Saat menengok realitas budaya gerak bangsa ini secara umum. Tak terkecuali generasi muda dan mahasiswa di kampus.
Mari kita lihat datanya. Riset Stanford University di jurnal Nature (2017), yang melacak jutaan langkah dari lebih 700 ribu pengguna ponsel di 111 negara. Hasil riset menobatkan Indonesia sebagai negara paling jarang berjalan kaki di dunia. Rerata hanya 3.513 langkah per hari, jauh di bawah rata-rata global sekitar 5.000 langkah. Data ini bukan temuan baru. Hampir satu dekade berlalu belum ada tanda pola ini berubah signifikan.
Organisasi Kesehatan Dunia (WHO) menetapkan standar. Tubuh manusia setidaknya butuh 150 menit aktivitas fisik intensitas sedang per minggu agar sistemnya optimal. Apakah kita memenuhinya? Data Survei Kesehatan Indonesia (SKI) 2023 dari Kementerian Kesehatan mencatat angka yang mengkhawatirkan. 37,4 persen populasi kita kurang gerak.
Temuan ini merinci bahwa mayoritas masyarakat berdalih tidak punya waktu dan mengaku malas. Kita terjebak sedentary lifestyle. Duduk di kelas atau kantor, menatap layar berjam-jam, pindah ke kafe, lalu rebahan. Lebih dari 8 jam sehari tanpa peregangan. Tubuh manusia, mesin biologis yang didesain untuk bergerak, dipaksa berkarat menumpuk lemak dan racun.
Di kampus, kita harus berani berotokritik. Budaya olahraga belum sepenuhnya menjadi sistem. Berapa utilisasi fasilitas olahraga kita? Apakah jogging track dan lapangan hanya ramai setahun sekali saat Rektor Cup? Berapa persentase mahasiswa yang rutin berlatih di Unit Kegiatan Mahasiswa dibanding total populasi kampus? Sering kali, budaya olahraga kalah oleh budaya rebahan dan screen time.
Padahal secara saintifik, berlari memicu protein BDNF (Brain-Derived Neurotrophic Factor) yang memperbaiki daya ingat dan kreativitas otak. Sulit mengharapkan inovasi riset dari tubuh yang kekurangan oksigen.
Apa akibatnya jika mesin biologis ini mogok? Jawabannya ada pada catatan BPJS Kesehatan.
Lonjakannya drastis. Sepanjang tahun 2025, beban pembiayaan penyakit katastropik menjadi Rp 50,3 triliun, naik dari Rp 37,28 triliun pada 2024. Jantung dan gagal ginjal menjadi penyedot anggaran terbesar. Hulu penyakit mematikan ini bukanlah wabah virus, melainkan kebiasaan merusak dari dalam.
Uang puluhan triliun hangus untuk mengobati akibat, bukan mencegah sebab. Kita bicara tentang Visi Indonesia Emas 2045 dan bonus demografi. Tapi bonus itu bisa berubah jadi bencana demografi jika generasi produktifnya penyakitan.
Maka, momentum seperti Run with Spirits pagi ini tidak boleh berhenti sekadar acara akhir pekan. Harus ada lompatan kesadaran, harus ada perubahan terstruktur, melalui tiga pilar.
Pertama, Redefinisi Ruang Publik. Orang malas berjalan karena tata ruang kota jarang memanusiakan pejalan kaki. Trotoar sempit, gersang, diokupasi parkir. Sebagai insinyur dan perencana masa depan, para alumni berperan mendorong kota menyediakan ruang terbuka hijau dan jalur pejalan kaki yang aman dan teduh.
Kedua, Olahraga Berbasis Data dan Inovasi Teknologi. Kesehatan preventif jangan hanya urusan ekstrakurikuler. Kampus harus menjadikannya indikator kinerja. Sebagai kampus teknologi, kita tak boleh hanya jadi konsumen wearable device. Riset sensor cerdas, algoritma pemantau kebugaran, hingga material pintar untuk alat olahraga harus dihilirisasi, membentuk ekosistem inovasi sehat buatan anak bangsa.
Ketiga, Orkestrasi Komunitas. Memulai kebiasaan sehat sendirian itu berat. IKA ITS membuktikannya pagi ini. Lewat wadah komunitas, lari yang melelahkan berubah jadi ajang tawa dan reuni. Wakil Wali Kota Balikpapan, Pak Bagus Susetyo, yang membuka acara, mengapresiasi pelibatan UMKM lokal, “Ini sangat positif. Di samping wadah olahraga, juga memberi dampak bagi pelaku usaha.” Beliau mendorong komunitas lain meniru kolaborasi ini. Sinergi multi-aktor inilah modal ketahanan kota. Badan sehat, jaringan kuat, ekonomi lokal menggeliat.
Pagi itu, di Balikpapan, ratusan alumni ITS dan masyarakat membuktikan sesuatu. Kita pernah dicatat dunia sebagai bangsa yang paling jarang melangkah. Tapi hari ini, kita memilih berlari.
Teruslah bergerak. Jangan berhenti. Sebab peradaban besar tidak dibangun oleh mereka yang terbaring, melainkan oleh mereka yang tangguh berdiri dan berani melangkah maju.
AMH
Agus Muhamad Hatta


Leave a Reply