
Jumat pagi, 10 Juli 2026, di Tanjung Priok. Di depan saya, bersandar sebuah legenda. KRI Dewaruci. Bukan sekadar kapal latih Angkatan Laut, melainkan duta bangsa yang telah mengelilingi dunia.
Usianya jelas tak lagi muda. Tapi auranya? Masih memancarkan wibawa penjelajah samudera.
Hari ini, KRI Dewaruci tidak sedang mengangkat jangkar. Ia bersiap untuk pelayaran yang lebih jauh. Pelayaran ilmu pengetahuan.
Di atas geladak bersejarah ini, saya mewakili Rektor ITS, membawa komitmen kerja sama dengan Yayasan Sail Indonesia Jaya (YSIJ). Pak Aji Sularso hadir penuh semangat. Bersama tim ITS, Dekan FTK – Pak Setyo Nugroho, Pak Sjarief Widjaja, serta Ketua Diktimarin – Pak Eko Budi Djatmiko. Tim Diktimarin Pak Sunaryo – FT UI, perwakilan dari ITB, dan lainnya. Para komandan dan taruna yang pernah ditempa KRI Dewaruci turut hadir. Kita disatukan oleh kegelisahan serupa.
Gelisah akan apa? Gelisah melihat sejarah maritim kita yang sering berakhir sebagai pajangan.
KRI Dewaruci resmi menjadi “laboratorium terapung”. Dikelola YSIJ. Yayasan nirlaba. Didedikasikan penuh untuk anak bangsa. Termasuk mahasiswa kita.
Menjaga kapal bersejarah butuh upaya. Lihatlah HMS Victory Inggris. Kapal legendaris itu kini diam ditopang penyangga baja di galangan kering Portsmouth. Atau Swedia, Kapal Vasa abad ke-17 harus disuntik cairan kimia belasan tahun agar kayunya tak hancur.
Italia dengan Amerigo Vespucci-nya. Tua. Klasik. Tapi tetap garang membelah ombak.
Kita semua ingin Dewaruci menjadi active living heritage. Kapal yang hidup, berlayar, dan mencetak pelaut tangguh.
Ini bukan angan-angan kosong. Bangsa kita ini bangsa pelaut. Bukan sekadar lirik lagu, melainkan DNA kita.
Abad ke-8, leluhur kita memahat kapal bercadik tanpa paku besi di Borobudur. Berabad kemudian, Majapahit menggetarkan lautan lewat Jung Jawa, raksasa jati setebal benteng. Armada Eropa sampai menelan ludah melihatnya.
Lihat pula pembuat Pinisi di Bulukumba. Lambung dibangun lebih dulu, baru kerangka. Sebuah rekayasa out-of-the-box yang diakui UNESCO. Keahlian maritim itu sejatinya mengalir dalam darah kita.
Pertanyaannya, mengapa bangsa pelaut ini tiba-tiba seolah “mabuk darat” di era modern?
Jawabannya pahit. Sejarah dibelokkan. Rantai inovasi maritim diputus kolonialisme. Dulu, hasil bumi diantar armada sendiri. Namun VOC menghancurkan pelabuhan kita. Kapal Nusantara dilarang membelah samudera. Kita dipaksa di daratan sebagai pekerja kebun kopi, teh, dan gula. Laut diubah paksa jadi halaman belakang.
Akibatnya, kita dijauhkan dari Revolusi Industri. Ketika Eropa menempa baja dan membangun kapal uap, evolusi teknologi kita terputus. Kita tak diberi ruang menguasai metalurgi dan manufaktur berat. Kita tertinggal di era kayu, sementara dunia melesat ke era baja.
Warisan kolonial itu membekas pekat jadi penyakit struktural.
Mari kita lihat wajah industri maritim kita hari ini.
Kita bangga punya banyak galangan. Tapi faktanya, tingkat komponen dalam negeri masih 30-40 persen. Pelat baja marine grade, mesin induk, propulsi, hingga radar elektronik nyaris semuanya impor. Kita sekadar menjadi tukang rakit di rumah sendiri.
Urat nadi logistik kita juga tersendat. Biaya logistik nasional bertengger di belasan persen PDB, kalah efisien dari negara tetangga. Kapal Tol Laut sukses berlayar ke Indonesia Timur, tapi sering pulang membawa ruang kosong.
Belum lagi soal pembiayaan. Membangun kapal butuh modal besar bernapas panjang. Tapi perbankan kita masih menyamakan industri galangan dengan manufaktur darat biasa. Bunganya tinggi, tenornya pendek.
Kondisi makin genting menengok ke luar. Dunia menuju dekarbonisasi dan kapal tanpa awak. Jika galangan gagap beradaptasi dengan standar emisi hijau, besok kapal kita dilarang bersandar di pelabuhan internasional. Belum lagi ancaman disrupsi geopolitik. Sekali jalur pasokan tersendat, galangan kita lumpuh kehabisan komponen impor.
Di kampus, kita butuh otokritik. Mahasiswa dan peneliti pintar. Jurnal riset menumpuk tebal. Tapi inovasinya? Sering kali terjebak di lembah kematian inovasi. Berhenti di laci, mentok jadi purwarupa, terputus dari denyut nadi industri maritim.
Padahal, peluang kita besar. Asas cabotage adalah benteng hukum yang kuat untuk mengamankan pasar domestik. Posisi geografis kita memegang kunci empat selat strategis dunia.
Lebih dari itu, disrupsi teknologi dan dekarbonisasi bukan sekadar ancaman, melainkan momentum. Kita tak perlu menapaki sisa revolusi industri lama. Inilah saatnya melakukan leapfrogging, langsung menuju era maritim mutakhir.
Kita tidak bisa lagi bekerja dengan cara biasa. Ada empat pilar yang harus kita pancangkan.
Pertama, Hilirisasi Teknologi. Kedaulatan sejati lahir dari inovasi, bukan sekadar komoditas ekstraktif tambang. Kampus harus hadir sebagai tulang punggung R&D industri maritim. Material mutakhir hingga Agentic AI dalam sistem navigasi tak boleh berhenti hanya di laporan penelitian.
Kedua, Industrialisasi Kemaritiman. Inovasi harus berwujud skala industri. Komponen vital harus diproduksi mandiri melalui orkestrasi Pemerintah, BUMN, swasta, dan pendidikan. Perbankan harus dirombak agar paham napas pembiayaan kapal itu panjang. Kita butuh bank maritim khusus yang berani mendanai ekosistem inovasi dari hulu ke hilir.
Ketiga, Standardisasi dan Safety. Laut tak pernah kompromi dengan keteledoran. Desain manufaktur hingga sistem saraf digital di lambung harus sesuai klasifikasi internasional. AI harus digunakan untuk predictive maintenance dan efisiensi energi. Kapal buatan kita harus tangguh melawan badai, memenuhi keselamatan, dan tuntutan dekarbonisasi global, termasuk adopsi bahan bakar hijau.
Keempat, Penyiapan SDM Maritim. Pada akhirnya, secanggih apa pun kapalnya, the man behind the gun penentu segalanya. Kita butuh SDM maritim tangguh. Butuh nakhoda, awak kapal, dan operator mesin. Kita juga butuh peneliti, inovator, dan teknopreneur maritim bernyali penantang ombak serta peka menghidupkan ekonomi biru.
Maka, KRI Dewaruci mengambil peran sejarahnya kembali. Ia bukan sekadar wahana character building. Di atas geladaknya, inovasi dilebur. Menjadi sebuah laboratorium hidup dan inspirasi IPTEK, sementara jiwa bahari mahasiswa kita ditempa oleh asinnya laut.
Dewaruci bukan sekadar sisa sejarah, melainkan arah masa depan. Mengingatkan selalu bahwa DNA kita adalah penakluk ombak samudera.
Jalesveva Jayamahe. Di laut kita jaya!
AMH
Agus Muhamad Hatta


Leave a Reply