Menantikan Firstlady

close up shot of a car s front bumper
Photo by Mike van Schoonderwalt on Pexels.com

Selasa, 12 Mei 2026. Saya berada di Bali. Namun, kali ini bukan untuk menikmati pantai atau pegunungan.

Saya melangkah masuk ke kawasan Ketewel, Gianyar. Memasuki sebuah kompleks kreatif terintegrasi. Di satu area yang sama inilah berdiri Tuksedo Studio dan Tuksedo Royale. Di restoran Tuksedo Royale, saya duduk berhadapan dengan Pak Pudji Handoko, sang pemilik.

Menelaah Tuksedo Royale ibarat membaca prolog dari sebuah buku tentang estetika. Restoran ini bukan sekadar tempat makan. Ini adalah ekstensi dari karakter sang pemilik. Desainnya presisi, suasananya elegan. Klasik.

Hari ini menjadi penanda penting. Kami menandatangani MoU. Sebuah sinergi strategis antara Tuksedo Studio dan ITS. Khususnya, kerja sama ini akan memperkuat Science Techno Park (STP) ITS yang berfokus pada empat klaster inovasi. Kemaritiman, otomotif, industri kreatif, dan TIK & Robotika. Ini langkah konkret. Mengawinkan riset kampus dengan imajinasi industri.

Sembari menyeruput kopi Arabika Kintamani, obrolan pun mengalir. Sangat lama. Dan sangat dalam.

Pak Pudji menceritakan perjalanan hidupnya. Sebagai sesama insan yang pernah digembleng di kampus perjuangan. Beliau adalah alumnus Arsitektur ITS. Kami cepat menemukan frekuensi yang sama.

Baginya, pendekatan arsitektur (desainer) bukanlah sekadar ilmu menggambar di atas kertas atau layar komputer. Arsitektur (desainer) sejati adalah tentang mewujudkan imajinasi. Menurunkannya dari langit pemikiran ke bumi kenyataan. Melalui praktik. Melalui workshop. Di mana pelat aluminium diketuk ribuan kali hingga menemukan bentuk sempurnanya.

Karya yang lahir dari Tuksedo Studio itu pun bukan main-main. Sebut saja re-kreasi legendaris seperti Porsche 356 Speedster, Mercedes-Benz 300 SL Gullwing, hingga JDM Toyota 2000GT.

Saya tentu awam dalam seluk-beluk produk mobil klasik ini. Namun, saya sangat sepakat dengan sebuah kutipan yang terpampang di Tuksedo Royale. In a World Full of Trends, be a Timeless Classic.

Untuk melahirkan kembali satu unit mobil tersebut, butuh waktu sekitar satu tahun penuh. Semuanya dikerjakan murni secara handmade. Lewat tempaan demi tempaan seniman logam. Bukan rakitan robot massal. Dan yang membuatnya semakin diburu kolektor, setiap model hanya diproduksi sangat terbatas. Hitungannya hanya beberapa unit saja. Sebuah keputusan sadar demi menjaga eksklusivitas.

Keandalan tangan-tangan terampil ini ternyata tidak berhenti di darat. Kami juga melihat produk karyanya yang lain. Luxury roundabout boat. Sebuah kapal mewah yang memancarkan aura elegan dan klasik. Tentunya sangat sejalan dengan napas klaster kemaritiman ITS.

Di tengah obrolan, matanya kembali berbinar. Ia mengeluarkan sebuah portofolio. Menunjukkan karya desain yang belum banyak diketahui publik.

Desain luxury train. Kereta api mewah. Lengkap dari lekuk aerodinamis lokomotif hingga detail interior gerbong penumpangnya yang berkelas dunia. Goresannya luar biasa. Sayang seribu sayang, desain indah itu belum terwujud.

Namun, energi Pak Pudji tidak berhenti pada desain yang tertunda.

Tahun 2027 nanti, ia sedang menyiapkan sebuah peluncuran besar. Selama ini Tuksedo Studio dikenal me”re-kreasi” mobil-mobil klasik legendaris Eropa dan Jepang. Tapi tahun depan, ia akan melahirkan mobil klasik yang benar-benar dirancangnya sendiri dari nol. Murni. Orisinal.

Ia memberinya nama yang sangat elegan. Firstlady.

Dari mana energi kreatif yang seakan tiada habisnya ini berasal?

Ternyata, inspirasi terbesarnya bukanlah sesama arsitek bangunan atau insinyur mesin. Tokoh yang paling menginspirasinya justru Ralph Lauren dan Giorgio Armani. Termasuk juga Steve Jobs. Dua desainer fesyen kelas atas dan satu visioner teknologi.

Mengapa mereka? Jawabannya bermuara pada satu kata yang sangat mahal, Taste. Selera.

Tokoh-tokoh tersebut tidak sekadar menjual baju atau komputer. Mereka menjual selera. Dan selera tinggi selalu menuntut satu hal. Kemampuan untuk mewujudkan perfection in details.

Kesempurnaan pada detail-detail terkecil. Taste bukanlah sekadar tampak luar yang megah, melainkan obsesi pada presisi di sudut-sudut yang mungkin jarang terlihat. Mulai dari lengkung jahitan kain, presisi piksel di layar kaca, hingga presisi setiap ketukan palu pada pelat aluminium di Tuksedo. Detail-detail mikroskopis itulah yang merangkai sebuah mahakarya.

Mereka memahami bahwa dalam industri kreatif, permainan utamanya adalah menambah value. Nilai.

Bahan baku pelat aluminium harganya mungkin bisa dihitung dengan mudah. Namun, ketika pelat itu disentuh oleh taste, dibentuk oleh keterampilan tangan yang terobsesi pada detail, dan ditiupkan roh seni, hukum ekonomi berubah. Harga jual tidak lagi didikte oleh biaya produksi, melainkan oleh nilai yang dirasakan. Dan puncak dari nilai itu adalah keunikan. Sesuatu yang one of a kind.

Mendengar penuturan beliau, pikiran saya langsung beresonansi.

Inilah wujud nyata dari hukum resonansi dalam penciptaan nilai. Bukankah ini esensi dari kerangka Research to Impact yang terus kita dorong? Kita tidak boleh membiarkan invensi berhenti menjadi purwarupa. Menuju Entrepreneurial University, kita harus mampu menyuntikkan value dan taste pada setiap karya yang kita lahirkan agar relevan dan dihargai tinggi oleh industri dan masyarakat.

Dari Bali, dari Tuksedo Studio, kita belajar bahwa ilmu pengetahuan dan teknologi adalah fondasi yang wajib kuat. Namun, selera, imajinasi, dan keunikanlah yang akan mengantarkannya menjadi sebuah mahakarya.

Kini, kita patut menunggu. Menantikan tahun 2027. Menantikan lahirnya sang Firstlady.

AMH
Agus Muhamad Hatta

Leave a Reply

Tentang saya

Saya menaruh perhatian besar pada persilangan antara keunggulan riset akademik, mulai dari fotonika hingga instrumentasi, dengan implementasi nyata di masyarakat. Melalui ruang ini, saya berbagi gagasan mengenai ekosistem Science Techno Park, strategi membawa inovasi dari ruang kelas ke pasar, serta refleksi kepemimpinan dalam memajukan pendidikan tinggi kita.

Discover more from Agus Muhamad Hatta

Subscribe now to keep reading and get access to the full archive.

Continue reading