
Selasa pagi, 17 Februari 2026. Saya melangkah ke kawasan religi Sunan Ampel. Ada hajat penting. Penyerahan Bluewave Smart Water Drinking Fountain. Pemurni air reverse osmosis canggih ini buah sinergi ITS, melalui DRPM, dengan Bank Mandiri.
Turut hadir, Pak Fadlilatul Taufany (Direktur DRPM), Pak M Ashidiq Iswara (Regional CEO Bank Mandiri), Kyai Mas Achmad Hood Ubaidillah (Ketua Yayasan), dan segenap tamu undangan.
Mesin berfitur high flow dan sensor otomatis ini siap melayani ribuan peziarah. Higienis dan mengalir tanpa henti.
Namun, sehebat apa pun mesin filtrasi itu, bintang utamanya tetaplah sang sumur. Sumur yang digali Sunan Ampel dan santrinya di abad ke-15. Usianya kini melampaui enam abad.
Kok bisa bertahan selama itu?
Jawabannya bukan teknis konstruksi. Sumur itu ditopang fondasi abstrak yang kokoh. Social trust. Kepercayaan sosial. Air hanya mengalir bebas jika ada keyakinan komunal bahwa tak ada yang akan memonopoli atau mengurasnya demi keserakahan pribadi. Tanpa rasa percaya, Sumur Ampel pasti sudah lama dipagari dan dikomersialkan. Ia adalah monumen kepercayaan.
Dua hari kemudian. Ruang kerja saya kedatangan para pendiri Youthpreneurs, Ideafest, dan Artisanmarket Surabaya. Mayoritas ibu-ibu pengusaha yang sedang bahu-membahu membangun ekosistem wirausaha.
Semangat mereka sejalan dengan arah ITS menuju Entrepreneurial University, di mana kami menargetkan minimal 6 persen lulusan memilih jalur wirausaha.
Bukankah dunia bisnis itu kejam dan penuh persaingan buas? Tidak selalu. Ekosistem bisnis sejati berdiri di atas kemitraan. Dan kemitraan mustahil berjalan tanpa bahan bakar utama. Kepercayaan. Jika Sumur Ampel adalah monumen kepercayaan masyarakat abad ke-15, maka ekosistem wirausaha ini adalah monumen kepercayaan abad ke-21.
Lalu, mengapa merawat sumur kepercayaan kini menjadi sangat genting? Karena kita kedatangan tamu baru. Tantangan peradaban terbesar saat ini. Era kecerdasan buatan.
Di titik ini, AI bukan sekadar alat pasif. AI adalah agen.
Selama ini, manusia membuat alat yang pasif, dari kapak batu hingga komputer. Semua pasrah menunggu perintah. AI mematahkan hukum itu. Untuk pertama kalinya, kita menciptakan entitas berotonomi yang mengamati, belajar, dan mengeksekusi tindakan.
AI menjelma menjadi warga digital. Celakanya, ia adalah pembelajar ulung yang menyedot data kolektif kita. Ekosistem manusia yang buas, culas, dan saling curiga hanya akan melahirkan agen AI yang serupa.
Lihat dunia digital kita hari ini. Polarisasi ekstrem, manipulasi algoritma, hingga aksi bakar uang demi menjatuhkan lawan bisnis. Ini demonstrasi nyata hilangnya social trust.
Bayangkan, rekam jejak bising inilah yang sedang dipelajari sang warga digital. Jika kita terus mempertontonkan narasi permusuhan, AI akan mengadopsi logika bengkok. Menyingkirkan entitas lain adalah cara paling logis untuk bertahan. Percikannya sudah terlihat pada sistem rekomendasi bias dan adu algoritma iklan yang agresif.
Coba bayangkan esok hari, ketika setiap individu, kampus, dan perusahaan memiliki agen AI-nya sendiri. Ruang publik akan disesaki triliunan interaksi antar-mesin dalam hitungan milidetik.
Dalam nalar fisika, ini persis dinamika many-body system. Interferensi kecil bisa beresonansi menjadi gangguan sistemik. Jika moral dan kepercayaan absen, agen-agen pintar ini hanya akan sibuk saling mengakali dan merobohkan tatanan.
Maka, kalau logika dan komputasi sudah diambil alih mesin, manusia kebagian apa?
Evolusi kita harus putar haluan. Manusia harus beranjak dari pencari Kekuatan (Power) menjadi pencari Kebijaksanaan (Wisdom). Biar mesin yang mengurus komputasi. Manusia harus berdiri sebagai penjaga gawang nilai.
Tentu, ini tak boleh berhenti di level retorika. Harus ada aksi konkret.
Pertama, bereskan regulasi. Pemerintah wajib menetapkan audit etika dan transparansi algoritma. Khususnya untuk AI yang memengaruhi hajat hidup publik, seperti peradilan, kesehatan, dan pendidikan. Mesin tak boleh jalan diam-diam.
Kedua, rombak pendidikan. Kurikulum kampus tak boleh lagi sekadar mengajarkan coding, komputasi presisi, atau literasi digital semata. Harus ada keberanian mengawinkan ilmu teknik atau perancangan algoritma dengan filsafat moral di dalam ruang kelas. Insinyur masa depan tak cuma dituntut jago merakit sistem yang efisien. Mereka harus gelisah memikirkan dampak sosial dari tiap baris kode yang mereka tulis.
Ketiga, hidupkan komunitas. Inisiatif pengelola data bersama (data trusts) yang transparan di akar rumput harus didukung penuh. Di level komunitaslah, benih kepercayaan itu disemai nyata.
Hari ini, sang warga digital sedang menatap kita diam-diam.
Jika kita mewariskan ekosistem kompetisi destruktif, ia akan menjadi mesin penghancur. Tapi jika kita mewariskan saling percaya, ia akan belajar bahwa trust adalah fondasi yang tak bisa ditawar.
Tugas kita hari ini persis seperti santri Ampel di masa silam. Merawat mata air kepercayaan. Memastikan apa pun yang kita kerjakan, entah merakit mesin, mendidik mahasiswa, atau menulis algoritma, haruslah menjadi sumur kebaikan.
Agar kelak, ketika sang warga digital meniru kita, ia belajar untuk membawa pencerahan, bukan kehancuran.
AMH
Agus Muhamad Hatta


Leave a Reply