
Rutenya lumayan panjang. Surabaya, Kuala Lumpur, Alor Setar, hingga ke ujung Perlis. Sepuluh jam perjalanan udara, transit, dan darat. Minggu, 21 Juni lalu.
Jarak geografis kita dengan Malaysia memang berdampingan. Tapi seberapa jauh jarak teknologi kita? Angka-angka dari paparan ERIA awal tahun ini langsung menghantui pikiran saya. Malaysia punya 93 perusahaan semikonduktor. Singapura 62. Vietnam 39. Kita? Laporan itu mencatat kita hanya punya empat pemain inti. Menyakitkan sekali.
Senin pagi, kepingan teka-teki ketertinggalan itu terjawab. Di depan mata. Saya bersama tim PIU HETI ITS berada di kampus Universiti Malaysia Perlis (UniMAP). Disambut hangat oleh Wakil Rektor Riset dan Inovasi. Prof. Rizalafande Che Ismail.
Kami diajak masuk ke “dapur” mereka. Microfabrication Cleanroom. Di dalam laboratorium ini, mahasiswa tidak sekadar belajar teori. Mereka berpakaian bunny suit. Mengoperasikan tungku oksidasi suhu tinggi. Melakukan proses photolithography, etching, hingga tahap menguji wafer. Laboratorium kampus itu adalah miniatur pabrik cip sungguhan.
Kurikulumnya dikemas apik. Dijahit persis mengikuti rantai pasok industri semikonduktor global. Ada tahapan Design, Fabrication, Packaging, hingga End Product. Di setiap tahap, terpampang jelas logo industri. Intel, TSMC, Micron, ASML. Ini cetak biru talenta plug-and-play. Lulus, mahasiswa langsung siap tempur di cleanroom industri. Tidak perlu diajari dari nol.
Apa yang saya saksikan di UniMAP ini bukanlah sebuah upaya instan. Malaysia sudah memulai lari maraton ini sejak tahun 1972. Ketika Intel membangun fasilitas produksinya di atas lahan yang dulunya sawah berlumpur. Kini, sejarah panjang 50 tahun itu dirajut dalam sebuah peta jalan. National Semiconductor Strategy (NSS). Kita perlu belajar dari mereka.
Pertama, peta jalan yang terstruktur. NSS Malaysia bergerak dalam tiga fase. Fase satu, membangun landasan dengan memodernisasi sektor pengemasan dan pengujian. Fase dua, melompat ke garis depan dengan mengejar desain cip mutakhir dan menarik pabrik fab canggih. Fase tiga, berinovasi untuk melahirkan perusahaan desain kelas dunia buatan lokal. Semua kementerian di sana berjalan seirama di bawah satu komando.
Kedua, target dan pendanaan berani. Pemerintah menargetkan investasi raksasa sebesar RM 500 miliar dan bertekad melatih 60.000 insinyur terampil. Pemerintah Malaysia bahkan mengalokasikan anggaran setidaknya RM 25 miliar khusus untuk mengeksekusi inisiatif NSS ini.
NSS adalah ambisi kedaulatan teknologi. Malaysia menolak terus menjadi “tukang jahit”. Targetnya spesifik. Mencetak 10 jawara lokal berpendapatan USD 1 miliar dan 100 perusahaan beromzet RM 1 miliar. Tujuannya tegas, yakni mendongkrak kesejahteraan dan standar upah pekerja lokal ke level global.
Lompatan ini butuh landasan kokoh. NSS membangun ekosistem. R&D semikonduktor global dikembangkan. Pusat riset korporasi, pusat keunggulan, dan kampus kelas dunia menyatu. Listrik hijau 24 jam dan daur ulang air dipersiapkan. Bahkan, perusahaan investasi pelat merah “dipaksa” menyuntik dana agar start-up desain cip lokal berlari kencang.
Sore harinya, kami bergeser menuju Penang. Julukan lamanya sebagai Pearl of the Orient. Kini telah berganti lebih mentereng. Silicon Stars. Di kawasan Bayan Lepas dan Batu Kawan, pabrik-pabrik ternama berjejal rapat. Inilah wujud nyata aglomerasi. Jarak antara desainer, pabrik, dan pengemasan hanya hitungan menit. Ekosistemnya benar-benar hidup.
Lalu, bagaimana dengan kita? Tentu tidak serta merta meniru Malaysia. Mereka punya momentum 50 tahun dan ekosistem matang. Membangun pabrik foundry raksasa di sini butuh dana ratusan triliun, jaminan listrik tanpa byar-pet, dan air ultra-murni. Kita belum sampai di sana.
Tapi kita punya apa yang Malaysia tidak punya. Material kritis. Dunia sedang dilanda “Chip War”. Ketegangan geopolitik membuat perusahaan raksasa panik mencari sekoci netral (friend-shoring). Ini kartu as kita. Cadangan silika murni, nikel, dan tembaga kita berlimpah.
Berbeda dengan Malaysia yang memakai insentif, strategi kita harus “bengal” melalui diplomasi “Paksa Rela”. Tukar material mentah dengan teknologi. Ingin nikel, silika, timah kita? Wajib bangun fasilitas pemurnian atau pengemasan di sini, bukan cuma mengeruk.
Namun, cermin dari NSS Malaysia ini menyingkap kelemahan terbesar kita. Harmoni. Malaysia bergerak satu komando, sementara kita masih sering memainkan partitur berbeda.
Beruntung, belakangan ini kita melihat energi aktivasi yang menjanjikan. Kehadiran BPI Danantara mulai mengubah konstelasi. Lompatan taktis Danantara. Menggandeng raksasa global seperti ARM untuk melatih 1.000 engineer lokal. Road-map nya mulai terlihat. Desain cip dijadikan pintu masuk utama.
Lewat orkestrasi Danantara, desain cip karya konsorsium kampus (ICDeC) kini memiliki kepastian pasar. BUMN diwajibkan menjadi penyerap pertama untuk kebutuhan kartu SIM hingga cip otomotif. Menyambungkan sirkuit ekonomi semikonduktor nasional.
Momentum orkestrasi ini menemukan waktu yang pas. Disrupsi AI adalah tombol reset. Peluang melompat tanpa merangkak dari bawah. Bidik ceruk Edge AI yang siap diserap pasar BUMN. Selanjutnya, lirik inovasi cip fotonika. Kawinkan elektronika dengan cahaya untuk mendobrak kebuntuan transfer data. Bermodal fondasi fisika, rekayasa dan optika yang kuat, desainer lokal siap memimpin arsitektur masa depan.
Kami di ITS tentu tidak akan menjadi penonton pasif. Itulah alasan utama kami menjejakkan kaki di UniMAP. Ini bukan sekadar kunjungan. Kami datang membawa misi menyiapkan kerja sama pelatihan talenta cleanroom semikonduktor.
Lebih dari itu, kami membedah “dapur” mereka. Mengamati dari dekat tata kelola, kebutuhan infrastruktur, hingga operasional fasilitas anti-debu tersebut. Tujuannya jelas, menyiapkan pembangunan Microfabrication Cleanroom kita sendiri. Fasilitas ini bukan sekadar ruang praktikum, melainkan inkubator pencetak talenta semikonduktor dan startup teknologi tinggi.
Selasa, pesawat membawa kami kembali menuju Surabaya. Satu hal yang pasti, kita tidak lagi punya kemewahan waktu. Lomba lari semikonduktor ini adalah maraton panjang. Pistol start sudah lama menyalak. Rapatkan barisan, pacu pendanaan taktis, dan paksa terjadinya transfer teknologi. Jika tidak, selamanya kita akan menjadi bangsa pembeli. Waktunya berlari, sebelum kita semua terbangun kesiangan.
AMH
Agus Muhamad Hatta


Leave a Reply